Baiklah anggaplah aku seorang yang realistis,
sesuatu yang realistis tumbuh dari keadaan yang terlalu menyakitkan. Manusia
mempunyai keharusan untuk realistis, karena kamu tahu sikap paling realistis
dari manusia adalah???? Yupz yaitu menyakiti....
Sepertinya itu tak terdengar sebuah pujian.
Tinggi ku hanya 185 cm, berat badanku 74 kg, tapi kalian tidak akan menemukan tumpukan lemak di tubuhku, aku mungkin secara postur sama seperti Cristiano Ronaldo. Ya CR7 pemain Real Madrid itu? Coba kalian bayangkan CR7 dengan rambut lurus, badan sedikit ceking, dan buang kemampuan bermain bola darinya, Abracadabra! Kalian akan mendapatkanku.
"Matamu, matamu---" gadis asing itu terkejut.
Soal mataku ya?
Setelah melihat mataku gadis itu berusaha mengendalikan dirinya. Gadis asing itu sepertinya berhasil melakukannya, tetapi seperti kebanyakan manusia lainya, ia tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya.
“Matamu....matamu kenapa? Kamu sakitkah?” Tanya gadis asing itu.
Aku sebenarnya enggan untuk menjelaskan apa pun kepada gadis ini, tapi tuhan membelokkan pikiran ku untuk menolak menjelaskan apa pun kepadanya. Nampaknya tuhan merubah keputusanku melalui pesona dari seorang perempuan ciptaanNya, hari ini Dia berhasil membuatku untuk merubah pikiran. Lagi pula tidak ada salahnya aku memberitahu sedikit tentang diriku yang sebenarnya, entah kenpa aku begitu percaya pada gadis ini. Seperti ada sesuatu darinya yang membuatku nyaman untuk berterus terang.
Ada hening yang cukup panjang diantara kami.
Sebentar lagi, aku akan menjelaskan siapa sebenarnya diriku.
“Kamu ingin penjelasan yang sebenarnya atau yang memuaskan rasa penasaranm?” tanya ku pelan.
Lantas aku pun menjelaskan semuanya. Tentu saja, hanya bagian bagian yang ku pikir perlu ia ketahui. Setiap aku menjelaskan satu bagian, gadis ini memotongnya dengan pertanyaannya yang tentu terdengar aneh. Gadis itu juga bertanya bagaimana reaksi orang lain saat melihatku, ia ingin tahu orang lain juga kaget saat melihat bola mataku yang gelap sepenuhnya.
“Aku tidak menatap orang secara langsung,” kataku.
Buku novelku ku tutup dan ku letakkan diatas meja diantara aku dan gadis itu, “Maksudku, kalau kamu menjadi biasa, tidak aneh tidak dan tidak berbuat ulah, bersikap layaknya batu dipinggir jalan atau papan peringatan lalu lintas di jalan daerah sini, orang orang akan melewatimu begitu saja tanpa memperdulikannya. Bahkan tak akan sadar kalau kamu sedang berada disebelahnya”
“Ya...masa gak ada satu orang pun yang mengetahui matamu itu”
“Kai, sebagai permintaan maafku, aku mau mengajak kamu pergi kesuatu tempat,” katanya memohon.
“BAIKLAH,” kataku.
----------------------------------------
Bagaimana sampai disini apakah kalian bisa menebakku?
OKE.
Kalian bisa menyebutku dengan malaikat, ya malaikat
yang mencoba menjadi manusia. Aku tentu bukan manusia seperti kalian. Dan
kenapa aku turun ke bumi? Entah aku lupa mulai kapan aku turun ke bumi,
alasanya saja aku lupa. Namun yang jelas aku saat turun ke bumi sedang dalam
keadaan berdebat kecil dengan ayahku yang tentu juga malaikat. Ayahku adalah
malaikat penurun hujan, kami tinggal bersama ibu di langit lapis ke tiga. Kami
para malaikat tinggal di langit dan langit sangat membosankan karena tak ada
apa apa selain warna biru. Dari alas tempat tidur berwarna biru, dinding yang
berwarna biru, pohon pohon yang berwarna biru, semua serba berwarna biru. Tapi
yang paling tak menyenangkan dari itu semua adalah, aku tak mempunyai langit.
Bagaimana aku bisa mempunyai langit sedangkan aku sendiri tingggal dilangit.
Kalian tahu tugas sebagai malaikat sangat lah berat, banyak dari kalian, manusia memuji kekasihnya dengan pujian “Kamu bagaikan malaikat,” tapi kukatakan kepadamu, tak ada yang menyenang kan dari menjadi malaikat. Boleh jujur aku bertugas mencatat amal dari anak yang sedang aku pinjam tangannya ini, anak ini cukup baik tapi sayangnya tidak begitu pintar dalam menghadapi perempuan, ya bisa ditebak anak ini sering menyendiri daripada punya pacar. Terakhir kali anak ini dekat dengan seorang gadis, gadis itu berpaling dan kembali ke cinta lamanya, sungguh malang memang nasib anak ini. Ah sudahlah, sepertinya anak yang tangannya aku pinjam ini dihatinya mungkin sedang menggerutu karena ceritannya aku ceritakan di Kisahku ini.
Langit itu agung tapi membosankan, aku tidak suka hal yang membosankan.
Aku merasa tinggal dilangit tidak memberikan sesuatu yang baru. Aku berkata kepada ibu dan ibu hanya berkata itu wajar wajar saja karena aku baru saja ber usia 170 tahun. Kata ibu, langit memang membosankan, tapi tak ada lebih agung daripada langit. Kukatakan kepada ibu aku hanya ingin tinggal di tempat yang tidak membosankan, bukan tempat yang agung.
Saat aku berbicara dengan ibu, ayah mendengar perkataanku. Ia memanggilku sangat keras, bahkan suaranya lebih keras daripada halilintar yang sering beliau buat ketika badai hujan melanda bumi kalian. Ia menganggapku dungu karena keinginanku tinggal di selain langit. Ia mewujudkan kekesalannya dengan mengabulkan keinginan untuk tinggal di tempat yang tak membosankan, tepat di usia tujubelas tahun Ayah menurunkanku ke Bumi. Ayah bilang, aku akan melihat sendiri bahwa perkataannya benar. Begitulah, awal mula aku berada di Bumi.
Bumi memang tidak membosankan, tapi malah terlihat mengerikan. Di langit kami tidak pernah mengeluarkan kata kata yang kasar dan berkelahi karena kami ingin. Apalagi membunuh, astaga membunuh. Kalian membunuh karena selembar kertas(red: uang) dan terkadang karena kalian tidak menyukai seseorang? Ayolah kalian manusia sangat berlebihan. Aku menanyakan hal itu ke sahabat manusiaku yang lain, dan dia hanya mengangkat bahunya lalu menghembuskan nafas panjang seakan sudah sering ia dengar. Ada lagi yang lainnya. Aku menimpali “ada lagi?” ia menambahi “ada banyak lagi” Aku tanpa sadar mengikuti gerakannya, menaikkan bahu dan membuang nafas panjang. “Aku ingin kembali ke langit” kataku setelah melihat Bumi yang begitu tidak membosankan. Tapi ketika aku akan bertemu dengan Via, keinginan ku untuk kembali ke Langit aku urungkan sampai besok pagi.
Saat aku bercerita, kami sedang duduk dibangku sebuah taman dekat sekolahan kami.
“Kai, ceritamu aneh deh tapi sepertinya aku mulai terbiasa dengan matamu”
“Tahu gak sih Kai, aku kadang merasa tertekan, ketika aku selalu dipandang dengan sisi negatif oleh orang orang, karena hanya pekerjaan ku sebagai seorang penyanyi dangdut. Sebenarnya aku gak mau hidup seperti ini, tapi kalau tidak seperti ini keluargaku bisa kelaparan.”
Aku hanya bergumam.
“Sebenarnya aku tak ingin peduli dengan keadaan yang ada di sekitar hidup, tempat ini sangat membosankan, aku seringkali berkhayal untuk tinggal di Langit, wah pasti disana menyenangkan deh”
Ya ikutlah bersamaku, Via
“Kai,” katanya, “apa kamu tahu rasanya ditatap dengan tatapan seolah olah kamu baru saja melakukan hal paling menjijikkan dalam hidupmu? Padahal mereka, orang lain, tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan!”
Aku diam mendengarkan ia berbicara sambil mencerna perkatannya.
Aku terkejut karena tiba tiba Via terisak. Aku belum pernah menghadapi perempuan menangis, jadi aku tak tahu cara memperlakukannya. Aku juga tidak tahu kenapa tangan kananku bergerak menuju bahu Via, memegangnya, lalu membuatnya mendekat ke diriku. Aku tidak tahu kenapa tanganku berpindah ke kepala Via, membelainya dengan usapan ringan. Bahkan aku tak tahu kapan Via membenamkan kepalanya ke dadaku, kemudian memelukku. Sungguh aku tak tahu. Semua terjadi begitu saja.
“Kai, aku tidak tahu knapa aku memberitahukan semua ini kepadamu. Aku baru saja mengenalmu, bahkan kamu sendiri bukan manusia”
Aku sudah bilang Via sangat cantik, tapi boleh kan aku meralatnya, Via bukan cantik, melainkan ia adalah wanita yang tidak membosankan. Ada perbedaaan besar antara cantik dan tidak membosankan. Gadis gadis di lingkungan sekolah cantik. Semua berdandan dengan cara yang sama, membicarakan hal yang sama, mengeluh dengan hal yang sama. Mereka membosankan. Beda dengan Via, dia tidak membosankan, entah knapa disetiap aku bersama dengan Via, aku seperti berada di Langit dan Bumi. Aneh. Tapi menyenangkan.
Aku nampaknya tidak perlu menceritakan kelanjutannya seperti apa, karena aku tau kalian manusia terlalu gampang bosan. Jadi, aku akan melewatkan bagian saat aku dan Via jadi sering janjian untuk bertemu, menghabiskan berjam jam dengan bicara apa saja. Setiap kali kita berpisah karena Via harus pergi karena urusan pekerjaannya, yang kukerjakan hanyalah menghitung waktu sampai hari esok datang kembali. Bahkan sampai aku lupa dengan rencanaku untuk kembali ke Langit.
Aku ingin menjadi manusia.
Karena aku malaikat aku tinggal di langit, ya cepat atau lambat aku akan kembali ke langit. Misalkan aku berniat untuk lebih lama tinggal di Bumi, ayahku pasti curiga lalu mencariku di Bumi dan menyuruhku untuk kembali ke Langit. Selama apa pun aku tinggal di Bumi aku tetap malaikat, yang mempunyai tugas, dan tugas tugasku tidak bisa kulakukan kalau aku masih di Bumi.
Jadi, kalau aku ingin terus bersama Via, aku harus menjadi manusia.
“Edan...kamu benar benar edan Kai, dasar malaikat edan” kata temanku, “Apa kata ayahmu nanti kalau kamu ingin jadi manusia Kai”
Rio selalu menyebutku edan ketika aku ingin menjadi manusia, selama di Bumi aku tinggal bersama Rio. Ayah memilihnya untuk menemaniku di Bumi mungkin karena dia aneh sama sepertiku. Bukan, Rio bukan malaikat. Kadar keanehanya justru kemanusiawiannya terhadap makanan, Rio sangat benci rasa pedas. Dan menurut ayah, Rio sangat bisa menjaga aku di Bumi, entah alasan karena Rio benci rasa pedas bisa membuat Rio menjadi manusia pilihan dimata Ayah. Aku tak tahu.
“Apa pun sebutannya, yo, aku ingin selalu bersama Via. Aku tak peduli. Aku mau ke Langit memberitahu Ayah tentang ke inginanku menjadi manusia.”
Rio sadar dia tidak bisa menghalangi ku, semakin di halangi semakin aku yakin untuk melakukan apa yang menjadi keyakinanku. Ya begitu seharusnya, ketika orang lain meragukan keputusanmu, kau harus tunjukkan kepada mereka bahwa mereka keliru.
Malamnya aku pergi ke Langit, aku terbang dengan dada yang membusung, dadaku di penuhi rasa percaya diri dan sikap yang optimis, aku menghadap Ayah. Aku berlutut di depan singgasananya, lalu aku pun ber kata:
“Ayah, aku ingin menjadi manusia”
Ayahku malah tertawa dengan keras, mungkin saking kerasnya sampai terdengar di seluruh penjuru langit dan di Bumi kalian akan terdengar seperti petir.
”Apa yang kamu bilang bocah? Coba ulangi lagi?”
Ia makin tertawa keras.
“Bocah apa yang kamu lihat di Bumi sama dengan apa yang ku ucapkan, bukan?” Ia tertawa lagi, “Sekarang kamu mau jadi seorang manusia, kepalamu sepertinya terbentur sesuatu, hingga kamu ingin melakukan hal yang konyol seperti itu.”
Kali ini, Ayah tidak tertawa.
“Kamu benar benar ingin jadi manusia? Diantara semua makhluk kamu memilih menjadi manusia?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu kamu harus mati bocah”
Mati
Ayah melanjutkan sembari meninggalkan ku di depan singgasananya, “Hanya orang bodoh yang mau mengakhiri hidupnya demi cinta, lebih lebih cinta kepada manusia.” Lalu ia tertawa lagi. Aku belum pernah merasakan mati, tapi kurasa mati bukan sesuatu yang membosankan.
Esok paginya, aku turun ke Bumi, menemui Via. Kukatakan semua rencanaku bahwa aku ingin mati.
“Apa, Kai, jangan gila kamu.”
Hmmmm....sialnya aku tidak berada di posisi yang
menyakiti teman teman, tapi...
Aku ingin jadi manusia
Kalian semua tahu alasan kenapa aku sebegitu
realistis kan?
Aku sebenarnya tidak begitu realistis untuk
ukuran seorang pemuda, sampai suatu ketika aku berusaha menjadi manusia yang
seutuhnya. Menjadi manusia artinya menjadi realistis. Kalian tidak hidup
dikhayangan, teman temanmu juga bukan malaikat atau bidadari, kan? mereka
manusia. Kalian pun manusia. Aku ingin menjadi manusia, maka aku bersikap
realistis.
Aku tidak mengerti banyak hal, kamu tahu. Kecuali
kalau kalian bilang bahwa malaikatpun enggan patah hati seperti manusia. Untuk
hal itu aku setuju. Sangat setuju. Bukannya aku bersikap skeptis atau pesimis,
sudah kubilang tadi didepan kan aku hanya bersikap dan berusaha menjadi lebih
manusiawi.
Oh ya sebelum aku bercerita kenapa aku ingin jadi
lebih manusiawi, aku mau minta maaf terlebih dahulu kepada si manusia
yang telah sengaja tangannya aku pinjam untuk menulis cerita ini. Kalian
sekarang pasti makin bingung, di kepala kalian mungkin sekarang dipenuhi
pertanyaan 'sebenarnya "aku" makhluk apa?' tak usah terlalu
dipikirkan kalian cukup membacanya saja nanti di tengah cerita kalaian juga
tahu siapa "aku" yang sebenarnya. Aku bukan tidak mau memberitahu
kalian, hanya saja aku tidak ingin meremehkan ke-manusiawi-an kalian.
------------------------
Saat itu, aku hanyalah pemuda biasa yang baru
mengijak usia 170 tahun atau dalam hitungan kalian aku baru saja ber sweet saventeen. Apakah aku perlu
mendiskripsikan bagaimana rupaku? ketika aku berusia 17 tahun, aku belum
menjadi realistis atau manusiawi? Perlukah?
Baiklah.
Kulitku berwarna relatif putih dari pemuda pemuda
seusiaku, atau laki laki pada umumnya. Rambutku berwarna hitam legam,
teksturnya cenderung lurus dan lembut ya kalau kalian liat Darius Sinatrya jadi
bintang iklan shampo mungkin hampir sama lembutnya. Gara gara kulit mulus dan
rambut yang lembut tak heran teman temanku sering menganggapku dengan sebutan
'cowok cantik'
Sepertinya itu tak terdengar sebuah pujian.
Tinggi ku hanya 185 cm, berat badanku 74 kg, tapi kalian tidak akan menemukan tumpukan lemak di tubuhku, aku mungkin secara postur sama seperti Cristiano Ronaldo. Ya CR7 pemain Real Madrid itu? Coba kalian bayangkan CR7 dengan rambut lurus, badan sedikit ceking, dan buang kemampuan bermain bola darinya, Abracadabra! Kalian akan mendapatkanku.
Hehehehe....mungkin sekarang kalian menyesal
telah membaca deskripsi tentang diriku dan tak menemukan apa pun yang menarik
dari diriku. Sudah kalian bayangkankan tak ada yang spesial dari diriku.
Setidaknya aku merasa demikian, sampai suatu siang ketika aku sedang sibuk
membaca sebuah novel di pojok ruang perpustakaan sekolahku. Sambil mendengarkan
lagu tentunya, 'All of Me' mengalun dengan indah melalui Earphone yang selalu
aku pasang ditelinga setiap mojok di perpus, tiba tiba muncul seseorang gadis datang
dihadapanku.
"Boleh duduk disini?" Kata gadis itu.
Aku hanya termenung melihatnya, perkataannya tidak
begitu terdengar.
"Haii...!!!" gadis itu melambaikan
tanganya di depan mukaku seperti sedang mengalihkan pandanganku dan mengajak ku
berbicara, gadis itu melanjutkan "Boleh duduk disini kah?"
"Hmmmm...." gumamku, "Oh...i-iya
boleh boleh"
Dia sekarang duduk tepat dihadapanku.
Aku sadar ini akan terdengar sangat bodoh, tapi
aku tidak akan heran ketika kalian membaca kalimat ini kalian akan berkata "haduhhh
biyung" atau "Yak....elahhhh" atau apapun reaksi
kalian ketika mendengar orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
Yah....semudah itulah aku jatuh cinta. Namun, apa yang kurasakan adalah hal
yang benar benar jujur, mungkin terdengar lugu, tapi jujur ini lebih jujur
daripada apapun yang pernah aku alami selama hidupku yang membosankan ini.
Kalian sekarang boleh menertawakanku teman teman. Aku tidak mengada ada, aku
sediri tidak tahu apa itu mengada ada, karena kalian tahu aku tidak pernah
mengada ada. Justru yang ada dikepalaku adalah saat melihat gadis itu
melihatku, duduk tepat dihadapanku, meletakkan beberapa buku Fisika lalu
mengeluarkan sebuah buku catatan dan ballpoint dari tas ranselnya, menggeser
tas ransel ku sedikit kearahku agar gadis itu mempunyai ruang untuk menulis
sesuatu di buku catatannya, sesekali gadis itu membenarkan kacamata mungilnya,
lalu tangannya terkadang memegang dagunya yang tirus seperti sedang memikirkan
rumus fisika, menarik nafas, lalu menghembuskan nafas adalah sesuatu yang tak
pernah terlintas dikepalaku sebelumnya.
Pemuda biasa yang berkata bahwa dirinya jatuh
cinta pada pandangan pertama kepada seorang gadis yang pertama kali ia temui
bahkan tahu namanya saja tidak, maka kalian berhak untuk mengetahui kelanjutan
dari cerita ini.
-----------------------
Ada ungkapan "Weting
tresno jalaran soko kulino" cinta datang karena terbiasa, entah mana
yang lebih tepat dengan apa yang sedang aku alami. Setelah belakangan aku
pikirkan, kurasa yang benar adalah aku bukan sedang jatuh cinta pada gadis itu
melainkan aku terpesona.
Ya, sepertinya aku hanya terpesona saja.
Aku terpesona ketika gadis itu membenarkan letak
kacamatanya, aku terpesona ketika gadis itu mencatat sebuah rumus atau ulasan
tentang sebuah hukum fisika, atau yang lain. Aku tak tahu. Aku terpesona pada
caranya membolak balikkan halaman demi halaman buku fisika yang berwarna merah
itu, terpesona pada caranya memegang dagu seraya berfikir, dan pada saat itu
dahinya berkerut dan alis tipisnya saling bertautan membentuk satu garis. Aku
terpesona pada caranya melakukan semua itu dengan santai, nyaman seakan aku tak
ada disana. Aku terpesona dengan gadis itu karena gadis itu membuatku merasa
hilang.
Dia melakukan kegiatanya sudah hampir setengah
jam dan sama sekali tidak ber bicara kepada ku. Baiklah, mungkin aku hanya
orang asing baginya dan dia duduk dihadapanku karena tak ada kursi lainnya yang
kosong. Tidak ada kewajiban antara dua orang asing untuk saling berbicara,
apalagi keduanya berada di perpustakaan. Tapi masa tak ada satu kata pun? Satu
katapun? Ayolah, dua orang yang saling ingin membunuh saja sempat bertukar kata
kata sebelum saling membunuh. Bukankah dua orang asing yang tak mempunyai
masalah juga semestinya tidak merasa berat untuk sekadar menyapa atau basa
basi. Oke oke, mungkin karena aku hanya ingin gadis itu mengajakku berbicara, aku
bisa punya alasan kuat untuk Jatuh cinta karena merdu suaranya.
kalau berbicara belum bisa, aku sebisa mungkin
untuk mencuri curi pandang kearah poni rambut gadis itu, menikmatinya selagi
didepan mata. Tak berselang lama ada sekelompok gadis lain berhenti di meja
kami.
"Owalah, lagi jadi kutu buku disini
rupanya" kata salah satu dari mereka, "...si mbak mbak penyanyi
dangdut pantura" sambungnya.
"Yaaaaa....biduan pantura" kata yang
satunya lagi.
"Bi-du-an pan-tura" timpal yang
terakhir.
Gadis didepanku terdiam seperti tidak
memperdulikan, tetapi aku milihat jemarinya berhenti menulis. Telapak tanganya
mengepal.
"Wihhh hapenya baru nih, pasti hasil
pemberian om om idung belang. Idih, nggak banget. Daripada jual diri mending
mati aja deh"
"Yaaa...mending mati aja"
Entah bagaimana gadis itu memulai. Yang jelas,
detik berikutnya tiga gadis yang baru datang tadi berteriak histeris, karena
wajah dari salah satu gadis tadi disiram air jus jeruk yang di keluarkan dari
tas gadis asing yang setengah jam lebih bersama denganku tadi.
"Kamu...kamu...berani beraninya..."
"Apa!!!!" kata gadis asing, suaranya
sekeras lantai perpustakaan.
Ketiga gadis itu pun akhirnya pergi begitu saja
meninggalkan meja kami sambil menggerutu, aku sendiri hanya tepana dengan
tatapan bingung dan canggung.
"Maaf ya...." kata gadis asing itu.
"Errrrr....apa?" tanya aku.
"Maaf untuk yang barusan."
"Oh gak pa pa" jawabku.
"Dan maaf untuk noda di bajumu itu" si
gadis melihat ujung kerah bajuku yang sedikit tersiram jus jeruk.
"Oooh...iya gak masalah"
Gadis itu mendongak, melihatku untuk pertama
kalinya sambil mengulurkan tanganya yang sekarang menggenggam beberapa helai
tissue. Lalu ia terdiam. Lebih tepatnya terperangah.
"Matamu, matamu---" gadis asing itu terkejut.
Soal mataku ya?
Aku tidak akan menjelaskan semuanya kepada kalian.
Aku tak ingin menjelaskan asal usulku. Tidak perlu dan tidak memiliki pengaruh
banyak pada cerita yang ingin ku sampaikan. Sejak awal sudah ku bilang pada
kalian kisah ini hanya lah kisah dari pemuda biasa yang tidak mengerti tentang
banyak hal, kecuali kalau kalian bilang bahwa malaikat pun enggak patah hati
seperti manusia.
Setelah melihat mataku gadis itu berusaha mengendalikan dirinya. Gadis asing itu sepertinya berhasil melakukannya, tetapi seperti kebanyakan manusia lainya, ia tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahunya.
“Matamu....matamu kenapa? Kamu sakitkah?” Tanya gadis asing itu.
“Tidak, aku sangat sehat.” Jawabku
“Tapi matamu nampak aneh, maaf sebelumnya kalau
pertanyaanku menyinggungmu” gadis itu mengakhiri perkataannya dengan simpul
senyum tipis penuh penasaran.
Aku sebenarnya enggan untuk menjelaskan apa pun kepada gadis ini, tapi tuhan membelokkan pikiran ku untuk menolak menjelaskan apa pun kepadanya. Nampaknya tuhan merubah keputusanku melalui pesona dari seorang perempuan ciptaanNya, hari ini Dia berhasil membuatku untuk merubah pikiran. Lagi pula tidak ada salahnya aku memberitahu sedikit tentang diriku yang sebenarnya, entah kenpa aku begitu percaya pada gadis ini. Seperti ada sesuatu darinya yang membuatku nyaman untuk berterus terang.
Ada hening yang cukup panjang diantara kami.
Sebentar lagi, aku akan menjelaskan siapa sebenarnya diriku.
“Kamu ingin penjelasan yang sebenarnya atau yang memuaskan rasa penasaranm?” tanya ku pelan.
“Eeee...aku...hanya” kata gadis itu gugup.
“Aku bukan manusia,” kataku akhirnya. “Entah apa
informasi itu membantu”
“Hah...maksudmu?” gadis itu kaget, sudah kuduga
sebelumnya reaksinya hampir sama seperti teman teman manusiaku lainnya.
“Hehehe...,” aku tertawa kecil. “Bagaimana kamu
ingin penjelasan yang sebenarnya, ya?”
“Yah, kurasa...” gadis itu berkata sambil
menaikan pundak mungilnya.
Lantas aku pun menjelaskan semuanya. Tentu saja, hanya bagian bagian yang ku pikir perlu ia ketahui. Setiap aku menjelaskan satu bagian, gadis ini memotongnya dengan pertanyaannya yang tentu terdengar aneh. Gadis itu juga bertanya bagaimana reaksi orang lain saat melihatku, ia ingin tahu orang lain juga kaget saat melihat bola mataku yang gelap sepenuhnya.
“Aku tidak menatap orang secara langsung,” kataku.
“Bagaimana kamu berbicara kepada gurumu, apakah kamu
memakai contact lens atau kacamata hitam?”
Aku tersenyum, “Tidak, orang orang tidak
memperhatikan apa yang mereka tidak ingin perhatikan”
“Maksudnya...”
Buku novelku ku tutup dan ku letakkan diatas meja diantara aku dan gadis itu, “Maksudku, kalau kamu menjadi biasa, tidak aneh tidak dan tidak berbuat ulah, bersikap layaknya batu dipinggir jalan atau papan peringatan lalu lintas di jalan daerah sini, orang orang akan melewatimu begitu saja tanpa memperdulikannya. Bahkan tak akan sadar kalau kamu sedang berada disebelahnya”
“Ya...masa gak ada satu orang pun yang mengetahui matamu itu”
Aku hanya menggelengkan kepala. Gadis itu hanya
bergumam seraya memicingkan mata kearah kelopak mataku. Entah apa yang ingin
gadis itu lihat.
“Kamu adalah orang yang pertama menyadari ada
sesuatu dengan mataku,” kataku.
“Matamu itu...matamu aneh, eeee ku pikir matamu
juga istimewa”
“Hanya mata orang yang istimewa yang dapat
melihat sesuatu yang istimewa,” kataku, “yah bisa dibilang matamu juga
istimewa. Dan tentu saja sama anehnya” Aku terbahak.
Ia pun ikut tertawa.
“Oh ya namaku Via” gadis itu menyodorkan
tangannya.
“Kai” Aku menyambut tangannya.
“Sekali lagi maaf soal tadi Kai, aku terlampau
emosi. Sebenarnya soal biduan dangdut tadi memang benar, aku memang penyanyi
dangdut”
“Iya, tidak apa apa Via”
“Kai, sebagai permintaan maafku, aku mau mengajak kamu pergi kesuatu tempat,” katanya memohon.
Ke mana pun
asal bersamamu, Via.
“BAIKLAH,” kataku.
----------------------------------------
Bagaimana sampai disini apakah kalian bisa menebakku?
Hah kalian belum bisa menebakku?
Kalian ini sangat merepotkan sekali rupanya, dasar
manusia.
OKE.
![]() |
| Aku bukan seperti ini, hanya saja aku susah untuk di visualkan. |
Kalian tahu tugas sebagai malaikat sangat lah berat, banyak dari kalian, manusia memuji kekasihnya dengan pujian “Kamu bagaikan malaikat,” tapi kukatakan kepadamu, tak ada yang menyenang kan dari menjadi malaikat. Boleh jujur aku bertugas mencatat amal dari anak yang sedang aku pinjam tangannya ini, anak ini cukup baik tapi sayangnya tidak begitu pintar dalam menghadapi perempuan, ya bisa ditebak anak ini sering menyendiri daripada punya pacar. Terakhir kali anak ini dekat dengan seorang gadis, gadis itu berpaling dan kembali ke cinta lamanya, sungguh malang memang nasib anak ini. Ah sudahlah, sepertinya anak yang tangannya aku pinjam ini dihatinya mungkin sedang menggerutu karena ceritannya aku ceritakan di Kisahku ini.
Langit itu agung tapi membosankan, aku tidak suka hal yang membosankan.
Aku merasa tinggal dilangit tidak memberikan sesuatu yang baru. Aku berkata kepada ibu dan ibu hanya berkata itu wajar wajar saja karena aku baru saja ber usia 170 tahun. Kata ibu, langit memang membosankan, tapi tak ada lebih agung daripada langit. Kukatakan kepada ibu aku hanya ingin tinggal di tempat yang tidak membosankan, bukan tempat yang agung.
Saat aku berbicara dengan ibu, ayah mendengar perkataanku. Ia memanggilku sangat keras, bahkan suaranya lebih keras daripada halilintar yang sering beliau buat ketika badai hujan melanda bumi kalian. Ia menganggapku dungu karena keinginanku tinggal di selain langit. Ia mewujudkan kekesalannya dengan mengabulkan keinginan untuk tinggal di tempat yang tak membosankan, tepat di usia tujubelas tahun Ayah menurunkanku ke Bumi. Ayah bilang, aku akan melihat sendiri bahwa perkataannya benar. Begitulah, awal mula aku berada di Bumi.
Bumi memang tidak membosankan, tapi malah terlihat mengerikan. Di langit kami tidak pernah mengeluarkan kata kata yang kasar dan berkelahi karena kami ingin. Apalagi membunuh, astaga membunuh. Kalian membunuh karena selembar kertas(red: uang) dan terkadang karena kalian tidak menyukai seseorang? Ayolah kalian manusia sangat berlebihan. Aku menanyakan hal itu ke sahabat manusiaku yang lain, dan dia hanya mengangkat bahunya lalu menghembuskan nafas panjang seakan sudah sering ia dengar. Ada lagi yang lainnya. Aku menimpali “ada lagi?” ia menambahi “ada banyak lagi” Aku tanpa sadar mengikuti gerakannya, menaikkan bahu dan membuang nafas panjang. “Aku ingin kembali ke langit” kataku setelah melihat Bumi yang begitu tidak membosankan. Tapi ketika aku akan bertemu dengan Via, keinginan ku untuk kembali ke Langit aku urungkan sampai besok pagi.
Saat aku bercerita, kami sedang duduk dibangku sebuah taman dekat sekolahan kami.
“Kai, ceritamu aneh deh tapi sepertinya aku mulai terbiasa dengan matamu”
“Pernyataanmu mungkin benar tapi tidak ada
hubungannya”
Tidak berselang lama Via terawa, astaga tawanya
persis seperti angin lembut yang biasa ibu buat ketika aku sedang merasa bosan
ketika di langit, ibuku kalau boleh kalian tahu adalah yang menurunkan angin
dan topan di bumi kalian.
“Tahu gak sih Kai, aku kadang merasa tertekan, ketika aku selalu dipandang dengan sisi negatif oleh orang orang, karena hanya pekerjaan ku sebagai seorang penyanyi dangdut. Sebenarnya aku gak mau hidup seperti ini, tapi kalau tidak seperti ini keluargaku bisa kelaparan.”
Aku hanya bergumam.
“Sebenarnya aku tak ingin peduli dengan keadaan yang ada di sekitar hidup, tempat ini sangat membosankan, aku seringkali berkhayal untuk tinggal di Langit, wah pasti disana menyenangkan deh”
Ya ikutlah bersamaku, Via
“Kai,” katanya, “apa kamu tahu rasanya ditatap dengan tatapan seolah olah kamu baru saja melakukan hal paling menjijikkan dalam hidupmu? Padahal mereka, orang lain, tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan!”
Aku diam mendengarkan ia berbicara sambil mencerna perkatannya.
Aku terkejut karena tiba tiba Via terisak. Aku belum pernah menghadapi perempuan menangis, jadi aku tak tahu cara memperlakukannya. Aku juga tidak tahu kenapa tangan kananku bergerak menuju bahu Via, memegangnya, lalu membuatnya mendekat ke diriku. Aku tidak tahu kenapa tanganku berpindah ke kepala Via, membelainya dengan usapan ringan. Bahkan aku tak tahu kapan Via membenamkan kepalanya ke dadaku, kemudian memelukku. Sungguh aku tak tahu. Semua terjadi begitu saja.
“Kai, aku tidak tahu knapa aku memberitahukan semua ini kepadamu. Aku baru saja mengenalmu, bahkan kamu sendiri bukan manusia”
“Tak apa Via, kalau itu membuat mu lebih baik”
Aku sudah bilang Via sangat cantik, tapi boleh kan aku meralatnya, Via bukan cantik, melainkan ia adalah wanita yang tidak membosankan. Ada perbedaaan besar antara cantik dan tidak membosankan. Gadis gadis di lingkungan sekolah cantik. Semua berdandan dengan cara yang sama, membicarakan hal yang sama, mengeluh dengan hal yang sama. Mereka membosankan. Beda dengan Via, dia tidak membosankan, entah knapa disetiap aku bersama dengan Via, aku seperti berada di Langit dan Bumi. Aneh. Tapi menyenangkan.
Aku nampaknya tidak perlu menceritakan kelanjutannya seperti apa, karena aku tau kalian manusia terlalu gampang bosan. Jadi, aku akan melewatkan bagian saat aku dan Via jadi sering janjian untuk bertemu, menghabiskan berjam jam dengan bicara apa saja. Setiap kali kita berpisah karena Via harus pergi karena urusan pekerjaannya, yang kukerjakan hanyalah menghitung waktu sampai hari esok datang kembali. Bahkan sampai aku lupa dengan rencanaku untuk kembali ke Langit.
Malah aku sekarang memikirkan sesuatu yang gila.
Aku ingin menjadi manusia.
Karena aku malaikat aku tinggal di langit, ya cepat atau lambat aku akan kembali ke langit. Misalkan aku berniat untuk lebih lama tinggal di Bumi, ayahku pasti curiga lalu mencariku di Bumi dan menyuruhku untuk kembali ke Langit. Selama apa pun aku tinggal di Bumi aku tetap malaikat, yang mempunyai tugas, dan tugas tugasku tidak bisa kulakukan kalau aku masih di Bumi.
Jadi, kalau aku ingin terus bersama Via, aku harus menjadi manusia.
“Edan...kamu benar benar edan Kai, dasar malaikat edan” kata temanku, “Apa kata ayahmu nanti kalau kamu ingin jadi manusia Kai”
Rio selalu menyebutku edan ketika aku ingin menjadi manusia, selama di Bumi aku tinggal bersama Rio. Ayah memilihnya untuk menemaniku di Bumi mungkin karena dia aneh sama sepertiku. Bukan, Rio bukan malaikat. Kadar keanehanya justru kemanusiawiannya terhadap makanan, Rio sangat benci rasa pedas. Dan menurut ayah, Rio sangat bisa menjaga aku di Bumi, entah alasan karena Rio benci rasa pedas bisa membuat Rio menjadi manusia pilihan dimata Ayah. Aku tak tahu.
“Apa pun sebutannya, yo, aku ingin selalu bersama Via. Aku tak peduli. Aku mau ke Langit memberitahu Ayah tentang ke inginanku menjadi manusia.”
“Edan....Kalau kamu di hukum tidak boleh kembali
ke Bumi bagaimana, haaaa?!!”
“Kalau tidak dicoba siapa yang tahu yo” Aku
berlalu meninggalkan Rio yang ekspresi mukanya masih kaget.
Rio sadar dia tidak bisa menghalangi ku, semakin di halangi semakin aku yakin untuk melakukan apa yang menjadi keyakinanku. Ya begitu seharusnya, ketika orang lain meragukan keputusanmu, kau harus tunjukkan kepada mereka bahwa mereka keliru.
Malamnya aku pergi ke Langit, aku terbang dengan dada yang membusung, dadaku di penuhi rasa percaya diri dan sikap yang optimis, aku menghadap Ayah. Aku berlutut di depan singgasananya, lalu aku pun ber kata:
“Ayah, aku ingin menjadi manusia”
Ayahku malah tertawa dengan keras, mungkin saking kerasnya sampai terdengar di seluruh penjuru langit dan di Bumi kalian akan terdengar seperti petir.
”Apa yang kamu bilang bocah? Coba ulangi lagi?”
“Aku ingin menjadi manusia ,” kataku lagi.
Ia makin tertawa keras.
“Bocah apa yang kamu lihat di Bumi sama dengan apa yang ku ucapkan, bukan?” Ia tertawa lagi, “Sekarang kamu mau jadi seorang manusia, kepalamu sepertinya terbentur sesuatu, hingga kamu ingin melakukan hal yang konyol seperti itu.”
“Aku ingin menjadi manusia. Ayah adalah seorang
malaikat yang mempunyai tugas penting di Langit pasti tahu bagaimana menjadi
manusia”
Kali ini, Ayah tidak tertawa.
“Kamu benar benar ingin jadi manusia? Diantara semua makhluk kamu memilih menjadi manusia?”
Aku mengangguk.
“Kalau begitu kamu harus mati bocah”
“Haaaa...maaf mati kata Ayah?”
“Iya mati anakku, kamu berharap ada cara paling
mudah untuk mengubah dirimu menjadi sesuatu yang lain, lebih lebih menjadi
sesuatu seburuk menjadi manusia?”
“Tidak Ayah tentu tidak”
“Berubah adalah hal yang paling sulit anakku”
Tiba tiba suara Ayah menurun. “Kamu tahu waktu yang Ayah butuhkan untuk menjadi
apa yang ibumu mau? 1000 Tahun anakku. Banyak hal yang tak bisa di ubah.
Katakanlah, setelah Kamu menjadi manusia nanti Kamu mau melakukan apa hai
anakku?”
“Aku mencintai seseorang, Ayah”
Ayah tertawa lagi, “Harusnya aku tahu,” katanya, “Ya
harusnya aku tahu, ya terserah kamulah bocah, lagipula Kamu sudah tahu cara
untuk menjadi manusia. Kamu hanya harus mati saja.”
Mati
Ayah melanjutkan sembari meninggalkan ku di depan singgasananya, “Hanya orang bodoh yang mau mengakhiri hidupnya demi cinta, lebih lebih cinta kepada manusia.” Lalu ia tertawa lagi. Aku belum pernah merasakan mati, tapi kurasa mati bukan sesuatu yang membosankan.
Esok paginya, aku turun ke Bumi, menemui Via. Kukatakan semua rencanaku bahwa aku ingin mati.
“Apa, Kai, jangan gila kamu.”
“Tapi Via, aku ingin mati, Ayahku bilang itu satu
satunya cara untuk bisa menjadi manusia.”
“Aku ingin menjadi manusia sepertimu, agar kita
bisa selalu menghabiskan waktu bersama. Bukankah itu sangat menyenangkan?”
Via memegang kepalanya, “Aku tak tahu Kai..”
“Tidak tahu, tidak tahu apa?”
“Entahlah Kai, maksudku.....kamu sangat
menyenangkan, kamu aneh, tapi menyenangkan. Ceritamu tentang kehidupan langit
mu, Kamu tahu, aku selalu ingin tinggal di Langit. Itu menyenangkan. Tapi
Kai....”
“Tapi??” tanya ku penasaran.
“Kai”
“Kamu senangkan bersama ku Via? Kamu menikmatinya
kan Via? Aku...aku akan selalu menyukaimu Via?”
“Kai...dengarkan aku.”
Aku terdiam. Ada hening panjang diantara kami.
“Aku tak bisa, ini terlalu cepat. Kai Kamu adalah
malaikat pertama yang kulihat di Bumi. Kamu malaikat yang menyenangkan. Tapi
aku...Aku bingung menjelaskannya?”
“Jelaskan saja.”
“Kai..” kata Via dengan nada parau, “Aku telah
bertemu dengan seseorang sebelumnya, jauh sebelum aku mengenalmu. Dia tidak
tampan sepertimu, tapi menarik. Dia sangat tidak menyukai makanan pedas. Dia
lebih suka makanan yang manis karena dia sadar dia tidak begitu manis. Setiap
kita makan pecel ayam didepan rumahnya, dia selalu menambahkan kecap di
sambelnya. Lucu sekali. Aku menyukainya. Baru saja aku mau cerita kepada mu.”
“Tapi Via, aku menyangimu. Aku cinta kepadamu.”
“Terima kasih Kai, sayangnya aku tidak.”
Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku
melihatnya. Tidakkah dia menyadari itu? Tidak, tidak menyadari hal itu dan
menganggap ini semua hanya permainan. Ayah benar. Sepenuhnya benar. Bumi bukan
tempat yang menyenangkan. Langit lebih tenang, membosankan, tapi lebih tenang.
Tidak sama dengan langit, di Bumi semua hanyalah permainan.
“Maafkan aku Kai, kita masih bisa menjadi teman,
kan?”
Dia mendekatiku dan tersenyum, senyumnya masih
sama ketika kita pertama kali bertemu.
Aku hanya mengangguk lemas, dia tersenyum lagi,
lalu pergi meninggalkanku. Aku terdiam dengan tatapan nanar menatap punggungnya
yang menghilang.
Jatuh cinta berdampak panjang, sangat panjang. Barangkali,
itu sebabnya meski jatuh cintaku sudah tak berguna lagi, aku tetap ingin selalu
berada di dekat Via yang membuat jatuh cintaku jadi tak berguna lagi. Aku ingin
menyaksikannya menyukai orang yang ia sukai. Aku ingin tahu bagaimana mencintai
seseorang saat ada orang lain yang jatuh cinta kepadamu. ‘Apakah aku melihatnya
dengan menjadi manusia atau tidak?’ itu bukan lagi menjadi persoalan, karena
aku tak perlu mati lagi. Ketika Via mengatakan semuanya, saat itu juga aku
sudah mati.
Oh ya satu lagi yang ingin kukatakan kepadamu,
teman.
Malaikatpun enggan untuk patah hati seperti kalian, manusia.

Comments
Post a Comment