Nongkrong
Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is
Indonesia
merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak
sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik.
Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah
budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat
dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk
ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya
adalah budaya nongkrong.
NY Times
Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia.
Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi: “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking and generally doing nothing: nongkrong.” (berarti anggota dewan lagi pada nongkrong dong ya)
Terus terang kata “doing nothing” membuat saya menger-nyitkan (mgerutkan; baca) dahi sekaligus introspeksi. Doing nothing = tidak melakukan apa-apa, seakan-akan di berita tersebut dipersepsikan konsumen Sevel Indonesia cuma duduk haha-hihi ga ada yang dikerjain, tidak produktif atau tidak melakukan aktivitas bermakna. Konotasinya negatif. Wah image seperti ini keterlaluan dan harus di-ubah.
Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia.
Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi: “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking and generally doing nothing: nongkrong.” (berarti anggota dewan lagi pada nongkrong dong ya)
Terus terang kata “doing nothing” membuat saya menger-nyitkan (mgerutkan; baca) dahi sekaligus introspeksi. Doing nothing = tidak melakukan apa-apa, seakan-akan di berita tersebut dipersepsikan konsumen Sevel Indonesia cuma duduk haha-hihi ga ada yang dikerjain, tidak produktif atau tidak melakukan aktivitas bermakna. Konotasinya negatif. Wah image seperti ini keterlaluan dan harus di-ubah.
Mindset Waktu
Secara umum mindset orang barat dan orang timur berbeda dalam memandang dan memperlakukan waktu, mindset orang barat: waktu efisien, tidak bisa diulang. Sedang mindset orang timur: waktu fleksibel, bisa diulang (daur ulang). Orang barat teriak “Now or never!”, sedangkan orang Indonesia dengan santun “Liat nanti deh”.
Hmm.. jadi karena ini NY Times bilang nongkrong itu “doing nothing”, seakan-akan New York Times ingin mengatakan konsumen Sevel Indonesia mempergunakan waktu kurang efisien, mereka mempersepsikan nongkrong itu orang hanya duduk-duduk ngobrol ringan tanpa hasil, tanpa melakukan sesuatu yang produktif/bermakna.
*Hanya untuk konsumen nongkrong, artikel tidak berlaku untuk konsumen Stop and Go (beli dan pergi)
Maksimalkan Fasilitas
Seperti kata pemegang lisensi Sevel Indonesia, Henri Honoris, berkata tentang Sevel, “It’s a warung with better quality.” Ya, sebenarnya Sevel adalah warung tapi lebih nyaman, ada tempat parkir, AC-nya dingin, tempat duduk, rak majalah, colokan listrik plus free Wi-Fi. Lengkap sudah. Lalu? Supaya tidak “doing nothing”: tempatkan fasilitas Convenience Store sebagai sarana pendukung, sarana pendukung untuk memaksimalkan potensi. Maksudnya?
Maksimalkan dalam segala hal, maksimalkan mengerjakan tugas kuliah/kantor, maksimalkan brainstorming ide bisnis dengan teman, maksimalkan pertemuan para anggota dari sebuah LSM, maksimalkan rencana baksos bersama komunitas, maksimalkan negosiasi kontrak dengan klien, maksimalkan start pembuatan script drama atau finishing karya lagu yang belum ada intro-nya. Memaksimalkan menyelsaikan naskah tulisan yang tidak berbobot. Sesuai jenis produktivitas masing-masing!
“Do nothing” to “Do something”
Convenience store bisa jadi “meeting room” tanpa tembok, lebih santai, relax, tidak begitu kaku. Siapa tau lebih luwes negosiasi disini. Siapa tau lebih niat ngerjain sesuatu di tempat ga resmi. Siapa tau suasana memantik ide/kreativitas baru. Tinggal connect kalo butuh referensi/pengembangan ide. Beberapa resource majalah yang dipajang bukan majalah “ecek-ecek”, isinya berkualitas dan topiknya bisa memperluas pengetahuan dan ide kita. Nongkrong pun berkualitas.
Selamat nongkrong!
Sudut Pandang
Penongkrong Salah Gaul
#Epic
Saya
orang yang tipenya kurang suka sama nongkrong-nongkrong... termasuk nongkrong
di kandang buaya, di genteng tetangga, dan juga nongkrong di Toilet perempuan.
Jujur saya dari dulu bukan anak nongkrong, saya paling gak biasa yang namanya
nongkrong, saya lebih suka di rumah atau main ke rumah temen buat
ngobrol-ngobrol, main PS, nyulam alis, buka tutorial masang hijab, dan
lain-lain.(sepertinya ada yang salah, yaudah lupakan). Pernah saya sesekali
ngikut ajakan temen saya buat nongkrong di salah satu cafe gaul di daerah Lippo
cikarang, saya duduk, mesen minuman, dan saya inget banget waktu itu jam saya
menunjukkan jam 10 lewat 22/7 menit waktu indonesia bagian Cikarang. Saya
bingung, celingak-celinguk, dan sibuk merhatiin orang-orang yang lagi pada asik
ngobrol-ngobrol di sana. Saya pun bener-bener penasaran, saking penasarannya
sampe muncul beberapa pertanyaan kayak gini; kenapa mereka jam segini matanya
masih seger, kenapa mereka ceweknya cantik-cantik, dan kenapa saya ke tempat
segaul ini cuma mesen teh manis... iya teh manis. IYA TEH MANIS! (biar heboh
ditulisnya dua kali)
Ngomongin teh manis, jujur aja saya paling katarak kalo ngeliat menu makanan-minuman di cafe-cafe yang nggak pernah saya kunjungin sebelumnya, dan untuk minuman sendiri saya paling akrab sama menu yang namanya Kakakcewek Laki Adalah.... akrabnya Teh Man-is.#oposih Kalo saya perhatiin cuma teh manis yang namanya nggak ditulis dengan bahasa yang aneh-aneh, palingan cuma dalam bentuk bahasa Inggris doang, nggak kayak waktu saya makan di suatu restaurant di Bekasi, pas saya liat gambarnya tadinya pengin bilang, "Bang! Somaynya satu porsi! Jangan pake pare! Bumbunya dibanyakin!" tapi pas saya liat namanya, saya heran, kenapa jadi Dimsum gini, sejak kapan dia ganti nama, gak sopan ganti nama tapi gak ngundang-ngundang. Untungnya saya gak jadi bilang gitu dan jadinya, "Mas, yang enih nih" sambil nunjuk-nunjuk gambar makanannya, udik emang, tapi abis itu saya mikir, kenapa coba gak dinamain somay aja biar lebih familiar di kupingGembel orang susah sahabat
warteg macam saya ini, kenapa harus Dimsum? KENAPAAAAAA??! Saya yakin, saya
yakin pasti itu somay abang-abang komplek yang mereka beli dan mereka jual lagi
dengan harga yang tinggi. Brilian, sungguh brilian strategi marketing mereka.
*mikir keras*
Akhirnya sekitar 10 menit teh manis yang saya pesen datang dengan anggun nan aduhai, bukan, teh manis saya anggun bukan gara-gara dipakein dress panjang putih dengan belahan dada ke mana-mana, dia terlihat anggun karena harganya sepuluh ribu lebih.. lebih tiga ribu.
Fakk mahal bener.
Saya minum sedikit demi sedikit teh manis saya, pelan-pelan, dan biar teh manis saya abisnya lama, cara minumnya agak sedikit saya ubah, jadi pas saya sedot tehnya, pas mau masuk ke mulut tehnya nggak saya minum, saya turunin lagi. Cool, saya emang cool banget waktu itu.
Abis itu saya tarok lagi gelas saya secara pelan-pelan, saya celingukan lagi, saya liat jam dan waktu itu jam saya menunjukan jam 11 kurang 3,14 menit. Saya lagi-lagi celingukan dan bingung sama orang-orang yang ada di cafe, kok bisa coba mata mereka bisa seger-seger kayak gitu, beda banget sama mata saya, mata saya jam segitu udah pada beraer, udah nguap-nguap, udah beler, pokoknya rasanya tuh bener-bener kayak.. kayak ngantuk gitu, gimana sih rasanya. Untung aja tongkrongan saya waktu itu cowok semua, kalo ada cewek, mungkin saat itu juga itu cewek udah saya tembak dan saya jadiin pacar buat nemenin saya ngobrol beberapa jam, abis itu ya saya putusin lagi. Begitulah, saya emang bakalan cepet ngantuk kalo di suatu forum obrolannya kurang menarik, saya inget banget di tongkrongan saya waktu itu lagi ngomongin cewek seksi yang mereka panggil dengan sebutan "Cewek Berbodi Gitar Spanyol Seksi Banget Seksi Abis Cinn" singkat aja CBGSSBSAC, di situ saya bingung, ini cewek hasil perkawinan orang spanyol sama senar gitar apa gimana, bisa-bisanya dibilang Cewek Berbodi Gitar Spanyol Seksi Banget Seksi Abis, kan kalo emang maksudnya seksi kenapa gak bilang seksi aja, atau apa kek, kenapa harus disama-samain sama gitar Spanyol, mereka gak tau apa kalo disama-samain itu rasanya nggak enak. Nggak enak banget. *ehh
Masih dalam masalah CBGSSBSAC, saya coba ngebayangin apa itu CBGSSBSAC, dan ngebayangin sistem pencernaannya si CBGSSBSAC itu kayak gimana, karena saya sendiri lahir dari hasil mutasi DNA Einstein dengan Alfalink, nggak heran kecerdasan saya itu nggak ada bendungannya, dan ini lah hasil bayangan saya tentang si CBGSSBSAC itu,
Ngomongin teh manis, jujur aja saya paling katarak kalo ngeliat menu makanan-minuman di cafe-cafe yang nggak pernah saya kunjungin sebelumnya, dan untuk minuman sendiri saya paling akrab sama menu yang namanya Kakakcewek Laki Adalah.... akrabnya Teh Man-is.#oposih Kalo saya perhatiin cuma teh manis yang namanya nggak ditulis dengan bahasa yang aneh-aneh, palingan cuma dalam bentuk bahasa Inggris doang, nggak kayak waktu saya makan di suatu restaurant di Bekasi, pas saya liat gambarnya tadinya pengin bilang, "Bang! Somaynya satu porsi! Jangan pake pare! Bumbunya dibanyakin!" tapi pas saya liat namanya, saya heran, kenapa jadi Dimsum gini, sejak kapan dia ganti nama, gak sopan ganti nama tapi gak ngundang-ngundang. Untungnya saya gak jadi bilang gitu dan jadinya, "Mas, yang enih nih" sambil nunjuk-nunjuk gambar makanannya, udik emang, tapi abis itu saya mikir, kenapa coba gak dinamain somay aja biar lebih familiar di kuping
Akhirnya sekitar 10 menit teh manis yang saya pesen datang dengan anggun nan aduhai, bukan, teh manis saya anggun bukan gara-gara dipakein dress panjang putih dengan belahan dada ke mana-mana, dia terlihat anggun karena harganya sepuluh ribu lebih.. lebih tiga ribu.
Fakk mahal bener.
Saya minum sedikit demi sedikit teh manis saya, pelan-pelan, dan biar teh manis saya abisnya lama, cara minumnya agak sedikit saya ubah, jadi pas saya sedot tehnya, pas mau masuk ke mulut tehnya nggak saya minum, saya turunin lagi. Cool, saya emang cool banget waktu itu.
Abis itu saya tarok lagi gelas saya secara pelan-pelan, saya celingukan lagi, saya liat jam dan waktu itu jam saya menunjukan jam 11 kurang 3,14 menit. Saya lagi-lagi celingukan dan bingung sama orang-orang yang ada di cafe, kok bisa coba mata mereka bisa seger-seger kayak gitu, beda banget sama mata saya, mata saya jam segitu udah pada beraer, udah nguap-nguap, udah beler, pokoknya rasanya tuh bener-bener kayak.. kayak ngantuk gitu, gimana sih rasanya. Untung aja tongkrongan saya waktu itu cowok semua, kalo ada cewek, mungkin saat itu juga itu cewek udah saya tembak dan saya jadiin pacar buat nemenin saya ngobrol beberapa jam, abis itu ya saya putusin lagi. Begitulah, saya emang bakalan cepet ngantuk kalo di suatu forum obrolannya kurang menarik, saya inget banget di tongkrongan saya waktu itu lagi ngomongin cewek seksi yang mereka panggil dengan sebutan "Cewek Berbodi Gitar Spanyol Seksi Banget Seksi Abis Cinn" singkat aja CBGSSBSAC, di situ saya bingung, ini cewek hasil perkawinan orang spanyol sama senar gitar apa gimana, bisa-bisanya dibilang Cewek Berbodi Gitar Spanyol Seksi Banget Seksi Abis, kan kalo emang maksudnya seksi kenapa gak bilang seksi aja, atau apa kek, kenapa harus disama-samain sama gitar Spanyol, mereka gak tau apa kalo disama-samain itu rasanya nggak enak. Nggak enak banget. *ehh
Masih dalam masalah CBGSSBSAC, saya coba ngebayangin apa itu CBGSSBSAC, dan ngebayangin sistem pencernaannya si CBGSSBSAC itu kayak gimana, karena saya sendiri lahir dari hasil mutasi DNA Einstein dengan Alfalink, nggak heran kecerdasan saya itu nggak ada bendungannya, dan ini lah hasil bayangan saya tentang si CBGSSBSAC itu,
Ciluk, BAAAAAAA! Ini dia si Cewek Berbodi Gitar Spanyol
Seksi Banget Seksi Abis Cinn atau CBGSSBSAC tersebut. Kalo diliat-liat cewek
ini emang kasian, mungkin dia begini karena beberapa tahun silam di Spanyol ada
kejadian seorang ibu yang juga seorang mantan musisi ngejenguk si CBGSSBSAC ini
di sebuah kota besar, karena si CBGSSBSAC ini malu ngeliat ibunya
berdandan ala ala anak anak dangdut koplo di depan pacarnya, akhirnya dia gak
mengakui kalo itu ibunya, ibunya marah dan bilang, "DASAR ANAK KURANG
AJAR! IBU PERI! KUTUK DIA JADI GITAR!" dan taraaaa, dia pun akhirnya jadi
Gitar Spanyol. Untung ibunya mantan musisi Dangdut koplo, coba kalo mantan
aktivis tumbuhan, mungkin si CBGSSBSAC ini nasibnya udah jadi Gelombang Cinta.
Gak kerasa pas liat jam udah jam 12 malem, saya pun balik sama temen-temen saya, dan hasilnya pun nggak ngerti apa aja yang barusan diomongin sama saya dan temen-temen saya itu apa, tapi ya itu seninya nongkrong sama temen, walaupun omongan lo ngaco kayak gimana pun yang perlu digaris-bawahi dari setiap pertemuan sama temen adalah suasananya, masa bodo pas nongkrong itu mau ngapain, esensinya ya silaturahmi. #anakgaulsyariah
Pesan moral: jangan sok nongkrong di cafe elit kalo cuma mesen teh manis.
Gak kerasa pas liat jam udah jam 12 malem, saya pun balik sama temen-temen saya, dan hasilnya pun nggak ngerti apa aja yang barusan diomongin sama saya dan temen-temen saya itu apa, tapi ya itu seninya nongkrong sama temen, walaupun omongan lo ngaco kayak gimana pun yang perlu digaris-bawahi dari setiap pertemuan sama temen adalah suasananya, masa bodo pas nongkrong itu mau ngapain, esensinya ya silaturahmi. #anakgaulsyariah
Pesan moral: jangan sok nongkrong di cafe elit kalo cuma mesen teh manis.

Comments
Post a Comment