"writing a massage....atau WAITING a massage :D"
Sentuhan tangan ku dilayar tampilan BBM terhenti disalah satu Personal Massage dari salah seorang temen di kontak BBM, aku tersenyum sambil membentuk lamunan ringan diotak kanan ku. Tergelitik dengan permainan kata writing atau WAITING, ya menunggu adalah kata yang menurutku sangat terbiasa berada di kepalaku.
“Hidup ini tentang menunggu.” *huft*
Tolong katakan padaku bahwa itu salah. Menunggu bukan hanya tentang kita yang diam tidak melakukan apa-apa, melainkan juga tentang segala tanya yang kerap berdengung kencang sesaat sebelum kita tidur, “Bagaimana akhirnya nanti?” Ini tentang sepi-sepi yang tak kunjung teratasi. Juga tentang segala takut yang membuat keyakinan terenggut.
Menunggu itu tidak mudah. Meyakinkan hati pada yang belum terjadi, bertahan dari segala godaan, dan tersenyum saat ragu mewabah, itu juga tidak mudah. Menunggu akan membuat setiap orang menjadi dungu.
Orang yang sedang menunggu (seseorang) adalah orang yang paling pandai menghibur diri.
Ketika orang yang ditunggu ternyata sedang bahagia dengan hidupnya, orang yang menunggu akan tersenyum sambil berkata, “Aku akan membuatmu semakin bahagia nanti.” Namun ketika orang yang ditunggunya sedang menangis, apa daya tidak ada yang bisa dilakukan, dia bukan siapa-siapa.
Orang yang menunggu hanya bisa mencintai dari jauh. Dan mencintai dari jauh adalah selemah-lemahnya bentuk perasaan. Yang mencintai dari dekat dan sudah mengungkapkan saja belum tentu bahagia. Lalu alasan apa yang membuat orang yang mencintai dari jauh bisa sebahagia itu? Tidak ada.
Orang yang menunggu hanya bisa tersenyum dari jauh melihat orang yang ditunggu bahagia. Sesederhana itu dia menghibur dirinya. Dia tidak sadar, yang ditunggu bahagia bukan karena dia. Dia juga tidak sadar, menunggu bukanlah cara untuk membahagiakan.
Orang yang menunggu mungkin bisa membayangkan hal-hal indah yang terjadi jika nanti dia hidup bersama orang yang ditunggu, pergi makan malam berdua, bergandengan tangan di bawah payung di antara rintik hujan, atau tertawa bersama saat saling menceritakan hidup yang sudah berlalu. Dia akan berusaha sekuat tenaga membahagiakan yang ditunggu. Indah dan membahagiakan diri si penunggu. Namun jika yang dilakukan hanya menunggu, jangan salahkan siapa pun jika, “Aku akan berusaha membahagiakanmu,” akan berakhir dengan, “Aku turut berbahagia untukmu.”
Sudahlah, janganlah siksa diri dengan menunggu. Katakan, atau tinggalkan, pilihlah. Lalu ingat ini:
Tresno kuwi,
Mungkin sesederhana ngenteni.
Tapi ngenteni,
Sayange ora sesederhana kuwi.
#Bijak
Mungkin sesederhana ngenteni.
Tapi ngenteni,
Sayange ora sesederhana kuwi.
#Bijak
Comments
Post a Comment