Skip to main content

Rasa Itu,

Sendiri adalah ketika kita mulai mengabaikan keinginan hati kita sendiri. Sendiri adalah usaha kita untuk menyangkal semua perasaan yang pernah menggebu di dalam dada. Sendiri adalah jalan yang mau tidak mau harus kita tempuh jika kita tidak mau bersandar terus pada masa lalu. Lebih tepatnya seseorang di masa lalu.

Kita adalah makhluk yang sangat bergantung pada orang lain. Rasanya sulit hidup tanpa orang lain, terutama orang lain yang begitu berarti untuk kita. Orang lain itu adalah orang yang bisa menjungkirbalikkan senyum kita menjadi murung, juga sebaliknya, gundah kita bisa hilang begitu saja tanpa alasan yang jelas hanya dengan menatap senyumnya.

Hari ini, gw kembali menjadi manusia yang bergantung pada orang lain.

Perasaan itu muncul lagi. Gw kembali menjadi manusia yang selalu murung menunggu kabar darinya. Namun setelah sebuah emoticon “:)” mendarat di kotak masuk WA gw, semua gundah hilang berganti menjadi tawa ceria. Sesederhana itu. Iya begitulah gw.

Gw selalu ingin pulang ke rumah lebih cepat, berharap akan ada keceriaan baru di malamnya nanti. Saling bertukar canda lewat pesan singkat, ataupun lewat jaringan telepon. Gelak tawanya selalu terbayang di sepanjang jalan perjalanan pulang. Tak ayal laju kendaraan kunaikan agar sesegera mungkin sampai di rumah untuk membuka telepon seluler, dan melihat kabar darimu. Kadang senyum terpasang megah di ujung bibir saat melihat pesan darimu. Namun tak jarang juga kecewa hinggap di dasar dada, kamu tak kunjung memberi kabar.

Perasaan itu muncul lagi. Gw kembali menjadi manusia yang selalu tak puas terhadap sang waktu. Tak adil jika waktu terasa cepat ketika kita sedang bersama seseorang yang berarti. Hingga kadang ada rasa tak rela harus mengakhiri canda dengannya ketika malam semakin larut dan masing-masing dari kami harus melanjutkan hidup besoknya. Tapi entah apa yang sebenarnya terjadi, gw rasa tak ada satupun dari kami yang ingin mengakhiri sebuah percakapan di telepon ataupun lewat aplikasi messenger di telepon seluler kami. Atau hanya gw saja yang merasa? Entahlah.

Gw merasakan lagi debar-debar ketika hendak memulai percakapan dengannya. Rasanya ada jutaan hal yang ingin gw katakan padanya. Ada dunia yang ingin gw bicarakan dengannya. Namun ketika parasnya muncul di hadapan, semua yang tersisa hanyalah kekagumanku atas dirinya. Gw hanya bisa menatap dalam-dalam (matanya) layar hp gw. Gw kehilangan kata-kata, mungkin gw harus belajar mengeja lagi.

Perasaan itu muncul lagi. Gw kadang merasa cemburu pada semua hal yang membuatnya tersenyum selain gw. Terlalu egois memang, tapi kadang juga gw sadar, melihatnya tersenyum saja, tanpa peduli karena apa atau siapa, gw merasa bahagia. Aneh.

Perasaan itu muncul lagi. Tak ada satu hari pun yang gw lewati tanpa mengintip sedikit status-nya di semua akun social media yang dia miliki. Berharap ada tulisan yang bercerita tentang kami. Jika ada, jantung ini berdebar tak menentu lebih kencang daripada ketika kita sedang menghadapi sebuah ketakutan yang sangat. Namun, tak jarang kecewa menyelimuti ketika tak ada satupun yang ia tulis di akun social media-nya. Tak jarang akhirnya gw yang mulai menulis hal-hal tentangnya, berharap dia membaca dan menyadari semuanya.

Perasaan itu muncul lagi. Kehilangan adalah bagian tersulit dari sebuah perjalanan. Gw takut kehilangannya, meskipun sebenarnya memilikinya pun gw belum. Gw takut salah bertindak. Setiap kata yang terucap selalu kujaga agar tak menyakiti hatinya. Setaip pesan yang kukirim, selalu kuperhatikan baik-baik, semoga tak ada sedikitpun yang menyinggung perasaannya.

Semua perasaan itu muncul lagi. Persis seperti matahari pagi yang sedang megah menujukkan cahayanya pada dunia.

Serumit-rumitnya perasaan itu, ternyata semua hanyalah bagian paling sederhana dari jatuh cinta (kembali).

To: DAS

Comments

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...