Skip to main content

Kangen Itu Seperti...?

ANALogi

Malam Minggu kemaren gue mengalami pengalaman yang luar biasa. Baru kali ini, pertama kali dalam hidup gue, gue nahan pup sampe gak bisa punya pacar. Sebelumnya gue pernah nahan pup, tapi gak separah ini. Kalo gak salah dulu waktu SD, gue terpaksa nahan pup selama pelajaran berlangsung karena gak rela pup di wc sekolah yang aliran airnya suka PHP. Saking PHP-nya, gue sering liat bekas pup yang gak tersiram. Gue nahan pup sepanjang jalan pulang ke rumah, pup di rumah, lalu kembali ke sekolah yang kebetulan cuma beberapa ratus meter dari rumah.

Eneywe kejadian nahan pup ini berlangsung sejak gue keluar dari Mall setelah numpang ngadem sambil lihat adek adek cewek (yang pake celana gemes) lalu lalang. Perut gue mulai melilit waktu gue mau jalan ke basement buat ngambil motor. Sebenernya ada dua pilihan saat itu; gue balik lagi ke Mall buat numpang pup atau gue tahan aja sampai kost. Gue memilih pilihan yang kedua.

Awalnya semua baik-baik aja waktu gue mulai menghidupkan mesin motor gue. Gue masih bisa menyamankan diri ngendarain motor sambil nahan pup. Seratus meter, dua ratus meter, dua kilometer, perut gue mulai gak bersahabat lagi, mending abis gak sahabat langsung jadi cinta. Ini sih sahabat jadi musuh. Perut gue semakin nyeri menahan sesuatu yang harusnya udah keluar dua kilometer di belakang.
Gue coba tetep bertahan dalam kondisi itu. Gue berjuang buat nahan pup sebisa mungkin. Alih-alih ingin berusaha nahan pup, semakin besar juga dorongan yang terasa. Ini seperti mencoba mendekatkan Julia Perez dengan Dewi Persik, semakin didekatkan, semakin mereka saling menolak. Semakin gue tahan pup, semakin sakit perut gue. Semakin terasa ada sesuatu di ujung tanduk.

Gue berinisiatif buat mempercepat laju motor gue. Gue tengok indikator bensin motor gue. Damn, udah di bawah huruf E. Gue gak boleh ngebut, makin ngebut, makin boros bensin. Bahaya kalau sampai mogok kehabisan bensin, pom bensin terdekat udah tutup. Gue akhirnya memilih ngendarain motor cuma 30 km/jam.

Berbagai posisi duduk udah gue coba. Miring kanan, miring kiri, condong depan, maupun condong belakang, tengkurep semua gak mengurangi rasa mules di perut. Justru malah semakin menambah daya gedor usus besar gue. Apalagi waktu motor melintasi jalanan yang gak rata di perlintasan kereta, gue makin diketawain sama usus besar gue.
Beberapa kilometer sebelum sampai kost, mata gue cuma bisa fokus menatap jalanan yang sepi. Gak bisa ngomong, karena emang gak ada temen ngobrol. Gak bisa nengok ke mana-mana dan gak bisa lagi mindahin posisi duduk. Ini semua tinggal menunggu detik-detik peledakan bom. Bom yang akan menghancurkan segalanya, lebih dahsyat dari bom-bom car di Dufan.
Kost an udah tinggal dua belokan lagi, kiri dan kanan, diulang beberapa kali. Mules gue mereda. Ada apa ini? Please perut, gue udah mau sampai rumah, kata gue ke perut. Justru di saat genting ini, sesuatu yang gak terduga malah terjadi. Di luar kehendak dan menyebalkan, mules gue hilang, dan gue merasa sangat terhina. Bahkan sama sistem pencernaan aja gue kena PHP. Ya Tuhan, dosa apa hamba?

Kost an semakin dekat, mules semakin memudar. Namun gue gak mau membiarkan semua perjuangan gue ini sia-sia. Gue putuskan gue akan menuntaskan semuanya malam itu juga. Gue gak mau tidur dalam keadaan yang kotor seperti itu. Setelah memarkir motor di garasi depan, gue mempercepat langkah ke WC. Gue tuntaskan semuanya.

Setelah gue tuntaskan semua, gue merasa gak jadi jomblo (ngenes) lagi, pokoknya gue merasa bebas lepas. Rasanya seperti terlahir kembali. Rasanya seperti melepas beban berat. Setelah gue pup, gue sekarang bisa melakukan aktivitas lain dengan normal. Gue gak perlu ganti posisi duduk buat nahan pup. Gak perlu atur napas. Gue bisa melakukan aktivitas lain dengan normal tanpa beban, tanpa perlu mengkhawatirkan hal lain yang mungkin terjadi. Gue jadi manusia bebas.

Gue segera bersiap tidur. Gue baringkan badan di kasur. Sebelum gue sempat memejamkan mata, ada hal yang gue pikirkan. Ternyata nahan pup itu kaya nahan kangen. Nahan pup bener-bener menggambarkan situasi waktu gue sedang nahan kangen. Kangen itu seperti pup, semakin ditahan, semakin menyiksa batin. Nahan kangen bisa bikin aktivitas gue yang lain jadi kacau, bawaannya cuma pengin guling-gulingan di kasur. Selalu ada yang gak nyaman dan mengganjal di hati waktu gue nahan kangen. Akan ada rasa yang salah ketika gue menahan sesuatu yang harusnya gak gue tahan.

Manusia gak seharusnya menahan nalurinya.

Namun kadang, ketika gue mulai jenuh dengan kangen yang gue tahan, selalu ada perasaan ragu ketika ingin mengungkapkannnya. Gue jadi percaya kalau naluri manusia, kadang bisa berubah jadi kebutuhan. Naluri untuk pup, bisa berubah jadi kebutuhan. Naluri untuk merindukan seseorang pun bisa berubah jadi kebutuhan. Ketika waktu tersebut tiba, gue harus bisa menyalurkan kebutuhan gue, bukan lagi menunggu semuanya terjadi dengan sendirinya. Gue harus bisa pup demi kesehatan system pencernaan gue. Gue harus bisa mengungkapkan kangen demi keseimbangan jiwa dan pikiran gue.

Setelah berhasil melakukannya, gue akan menjadi manusia bebas yang seperti baru terlahir kembali. Kuncinya, ungkapkanlah kangen itu dengan tanpa mengharap apa-apa. Seperti pup yang kita lepaskan tanpa harapan apa-apa setelahnya, apalagi balasan.

Comments

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...