ANALogi
Eneywe kejadian nahan pup ini berlangsung sejak gue keluar dari Mall setelah numpang ngadem sambil lihat adek adek cewek (yang pake celana gemes) lalu lalang. Perut gue mulai melilit waktu gue mau jalan ke basement buat ngambil motor. Sebenernya ada dua pilihan saat itu; gue balik lagi ke Mall buat numpang pup atau gue tahan aja sampai kost. Gue memilih pilihan yang kedua.
Awalnya semua baik-baik aja waktu gue mulai menghidupkan mesin motor gue. Gue masih bisa menyamankan diri ngendarain motor sambil nahan pup. Seratus meter, dua ratus meter, dua kilometer, perut gue mulai gak bersahabat lagi, mending abis gak sahabat langsung jadi cinta. Ini sih sahabat jadi musuh. Perut gue semakin nyeri menahan sesuatu yang harusnya udah keluar dua kilometer di belakang.
Gue coba tetep bertahan dalam kondisi itu. Gue berjuang buat nahan pup sebisa mungkin. Alih-alih ingin berusaha nahan pup, semakin besar juga dorongan yang terasa. Ini seperti mencoba mendekatkan Julia Perez dengan Dewi Persik, semakin didekatkan, semakin mereka saling menolak. Semakin gue tahan pup, semakin sakit perut gue. Semakin terasa ada sesuatu di ujung tanduk.
Gue berinisiatif buat mempercepat laju motor gue. Gue tengok indikator bensin motor gue. Damn, udah di bawah huruf E. Gue gak boleh ngebut, makin ngebut, makin boros bensin. Bahaya kalau sampai mogok kehabisan bensin, pom bensin terdekat udah tutup. Gue akhirnya memilih ngendarain motor cuma 30 km/jam.
Berbagai posisi duduk udah gue coba. Miring kanan, miring kiri, condong depan, maupun condong belakang, tengkurep semua gak mengurangi rasa mules di perut. Justru malah semakin menambah daya gedor usus besar gue. Apalagi waktu motor melintasi jalanan yang gak rata di perlintasan kereta, gue makin diketawain sama usus besar gue.
Beberapa kilometer sebelum sampai kost, mata gue cuma bisa fokus menatap jalanan yang sepi. Gak bisa ngomong, karena emang gak ada temen ngobrol. Gak bisa nengok ke mana-mana dan gak bisa lagi mindahin posisi duduk. Ini semua tinggal menunggu detik-detik peledakan bom. Bom yang akan menghancurkan segalanya, lebih dahsyat dari bom-bom car di Dufan.
Kost an udah tinggal dua belokan lagi, kiri dan kanan, diulang beberapa kali. Mules gue mereda. Ada apa ini? Please perut, gue udah mau sampai rumah, kata gue ke perut. Justru di saat genting ini, sesuatu yang gak terduga malah terjadi. Di luar kehendak dan menyebalkan, mules gue hilang, dan gue merasa sangat terhina. Bahkan sama sistem pencernaan aja gue kena PHP. Ya Tuhan, dosa apa hamba?
Kost an semakin dekat, mules semakin memudar. Namun gue gak mau membiarkan semua perjuangan gue ini sia-sia. Gue putuskan gue akan menuntaskan semuanya malam itu juga. Gue gak mau tidur dalam keadaan yang kotor seperti itu. Setelah memarkir motor di garasi depan, gue mempercepat langkah ke WC. Gue tuntaskan semuanya.
Setelah gue tuntaskan semua, gue merasa gak jadi jomblo (ngenes) lagi, pokoknya gue merasa bebas lepas. Rasanya seperti terlahir kembali. Rasanya seperti melepas beban berat. Setelah gue pup, gue sekarang bisa melakukan aktivitas lain dengan normal. Gue gak perlu ganti posisi duduk buat nahan pup. Gak perlu atur napas. Gue bisa melakukan aktivitas lain dengan normal tanpa beban, tanpa perlu mengkhawatirkan hal lain yang mungkin terjadi. Gue jadi manusia bebas.
Gue segera bersiap tidur. Gue baringkan badan di kasur. Sebelum gue sempat memejamkan mata, ada hal yang gue pikirkan. Ternyata nahan pup itu kaya nahan kangen. Nahan pup bener-bener menggambarkan situasi waktu gue sedang nahan kangen. Kangen itu seperti pup, semakin ditahan, semakin menyiksa batin. Nahan kangen bisa bikin aktivitas gue yang lain jadi kacau, bawaannya cuma pengin guling-gulingan di kasur. Selalu ada yang gak nyaman dan mengganjal di hati waktu gue nahan kangen. Akan ada rasa yang salah ketika gue menahan sesuatu yang harusnya gak gue tahan.
Manusia gak seharusnya menahan nalurinya.
Namun kadang, ketika gue mulai jenuh dengan kangen yang gue tahan, selalu ada perasaan ragu ketika ingin mengungkapkannnya. Gue jadi percaya kalau naluri manusia, kadang bisa berubah jadi kebutuhan. Naluri untuk pup, bisa berubah jadi kebutuhan. Naluri untuk merindukan seseorang pun bisa berubah jadi kebutuhan. Ketika waktu tersebut tiba, gue harus bisa menyalurkan kebutuhan gue, bukan lagi menunggu semuanya terjadi dengan sendirinya. Gue harus bisa pup demi kesehatan system pencernaan gue. Gue harus bisa mengungkapkan kangen demi keseimbangan jiwa dan pikiran gue.
Setelah berhasil melakukannya, gue akan menjadi manusia bebas yang seperti baru terlahir kembali. Kuncinya, ungkapkanlah kangen itu dengan tanpa mengharap apa-apa. Seperti pup yang kita lepaskan tanpa harapan apa-apa setelahnya, apalagi balasan.
Comments
Post a Comment