Skip to main content

#Kode




Bar-Kode




Kemaren, waktu pulang kerja, gue mendapat kenyataan menyedihkan tentang perilaku pengendara motor di Jakarta. Entah siapa yang memulai, semakin hari, fungsi lampu sign semakin tergantikan oleh kaki. Lampu sign yang seharusnya dinyalakan waktu kita hendak berbelok, sekarang digantikan dengan kaki yang diturunkan. Kalau mau belok kanan, bukan nyalain lapu sign kanan, tapi malah turunkan kaki kanan. Begitu juga sebaliknya.


Sambil nunggu lampu merah berubah jadi hijau, gue kepikiran hal ini. Gue menyayangkan banget kenapa hal yang menggelitik ini bisa terjadi. Apa karena pakai rok mini jadi alasan menggerakkan jempol buat menekan tombol lampu sign itu lebih sulit daripada menurunkan kaki? Mending kalau motornya matic, coba kalau manual atau semimanual, pasti nambah bahaya karena kaki punya peran yang penting buat ngatur rem dan perseneling.  Mungkin inilah tipikal orang Indonesia, sukanya hal-hal yang berbahaya. Tapi gue beda, hal berbahaya terakhir yang gue lakukan adalah cuma kepoin twitter-nya mantan. Setelah liat dia ternyata bahagia sama pacar barunya, gue masuk ICU koma 2 hari dengan hati penuh luka. Ketika sembuh, gue berjanji nggak akan kepo lagi. Sumpah bahaya banget.

Yang kemudian gue pikirkan adalah bakal jadi apa lampu sign ini nantinya?
Dia kan udah jadi kode standar internasional, kenapa harus tergantikan dengan kode yang nggak semua orang ngerti. Bisa aja orang nurunin kaki karena pegel, bisa juga nurunin kaki karena takut motornya jatoh… soalnya lagi parkir.

Mungkin, orang merasa lebih keren kalau bisa bikin kode yang cuma bisa dimengerti oleh dia dan Tuhan. Mungkin juga ini efek dari kita yang keseringan nunduk liatin gadget, makanya jadi lebih sering nunduk meskipun lagi di jalan, jadinya lampu sign nggak kelihatan dan lebih kelihatan kaki pengendara di depan. Akhirnya,  seorang jenius menciptakan kode “turunin kaki” buat ngegantiin lampu sign. Mungkin, kode dengan kaki ini lebih mudah dilihat. Iya kalau pakai sepatu yang bisa nyala-nyala.
*Eng Ing Eng*
Ada gambar sponge-bob biar unyuk

“Dulu namanya lampu sign, setelah tergantikan, sekarang manjadi lampu sigh.”
Lampu lalu linta udah hijau, gue tarik gas, nyalain lampu sign kanan, belok kanan lalu matiin lampu sign dan ngebut ke rumah. Lima belas menit kemudian gue nyampe di rumah. Nyampe rumah gue mikir lagi, kayanya kok susah banget ya orang buat nyalain lampu sign kaya gue? Daripada nurunin kaki, repotin diri sendiri dan nyusahin orang lain yang nggak ngerti, mending gerakin jempol sedikit demi masa depan yang lebih cerah.

Gue juga jadi kepikiran tentang semua kode-kode yang sering jadi andalan para cewek buat mengungkapkan sesuatu. Kok bisa ya? Bayangin, ketika cewek menebar kode (yang biasanya Cuma dimengerti sama dia dan Tuhan), hati kecilnya pasti berkata, “Semoga dia ngerti.” Dear cewek, banyak cowok yang nggak tau maksud kode kamu itu apa, atau yang paling menyedihkan adalah  kalau si cowok target nggak tau kalau itu adalah kode.

Semua hal diciptakan beserta cara untuk mengertinya. Misalnya Torsimeter diciptakan dengan manual book-nya (beuh, anak AHM banget kan gue?). Samuel F B Morse, nyiptain Sandi Morse beserta cara memecahkannya. Huruf Palawa yang ada di prasasti pun ada terjemahannya bahkan update status alay pun -'4Ku d1 pHp'- ada terjemahannya. Gue nggak bilang kalau kode cewek itu nggak ada terjemahannya, tapi seringnya terjemahannya Cuma si cewek dan Tuhan aja yang tau.

Mending jangan kode-kodean deh, ungkapin aja yang harusnya diungkapin.
“Tapi kan cewek nggak mungkin memulai duluan.”
Dan semua nggak akan ada akhirnya.
“Biar berjalan apa adanya aja.”
Pas kehilangan, langsung nangis bombay.
“Nggak kok. Nggak apa-apa.” #AkuRaPoPo
Akhirnya semua berakhir di “AkuRaPoPo” cewek yang udah jelas itu adalah bohong.
Menurut gue kalau ada sesuatu dengan seseorang, lebih baik kita ajak dia bertemu, bicarakan. Nggak bisa bicara langsung, ungkapkan lewat tulisan, berikan padanya, biarkan kemudian dia yang memulai pembicaraan.

Ah, gue mulai absurd nih. Mungkin udah saatnya istirahat. Setidaknya, kita harus mulai berpikir untuk lebih sering ngomong langsung di banding ngasih kode-kode yang aneh dan sulit dimengerti. Nggak mau kan disamain sama pengendara motor yang nurunin satu kakinya buat belok karena ngasih kode yang sulit dimengerti?

Comments

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...