Banyak hal-hal di sekeliling kita yang justru baru kita sadari sangat
berarti ketika dia udah nggak ada. Kalau sesuatu itu udah hilang, baru
deh penyesalannya datang belakangan. Iya, belakangan, soalnya kalo
datang pertama dia berarti mau piket, tapi sayangnya penyesalan nggak
perlu piket.
Coba kita pikirkan lagi tentang kuku kelingking. Kecil, fleksibel,
dan dinamis.
Cocok banget buat ngupil. Bayangin waktu kelingking kita nggak berkuku, lalu kita pake buat ngupil. Nggak enak, dan nggak efektif buat menjangkau upil kita, bukan? Bahkan gue sering potong kuku, tapi menyisakan kuku kelingking buat dipanjangin. Karena apa? Karen gue nggak mau kehilangan nikmatnya ngupil pake kelingking. Gue udah pernah merasakan, kehilangan kuku kelingking di saat upil gue menumpuk. Rasanya saxit men. Pake x biar macho.Gue nggak mau lagi menyesal dan baru sadar kuku kelingking sangat berarti ketika gue kehilangannya.
Cocok banget buat ngupil. Bayangin waktu kelingking kita nggak berkuku, lalu kita pake buat ngupil. Nggak enak, dan nggak efektif buat menjangkau upil kita, bukan? Bahkan gue sering potong kuku, tapi menyisakan kuku kelingking buat dipanjangin. Karena apa? Karen gue nggak mau kehilangan nikmatnya ngupil pake kelingking. Gue udah pernah merasakan, kehilangan kuku kelingking di saat upil gue menumpuk. Rasanya saxit men. Pake x biar macho.Gue nggak mau lagi menyesal dan baru sadar kuku kelingking sangat berarti ketika gue kehilangannya.
Hal yang sama juga gue alami dengan tukang sol sepatu. Ketika semua
sepatu gue dalam keadaan sempurna, dia selalu lewat. Sekarang giliran
sepatu gue udah laper (baca: bagian depannya menganga), dia nggak
lewat-lewat. Gue tungguin dia di depan pintu rumah sambil duduk menahan
dagu layaknya orang nunggu jawaban cinta. Sehari, dua hari, sampai
rambut gue memutih dan punggung gue membungkuk, dia nggak kunjung lewat.
Akhirnya gue mutusin untuk pergi ke pasar malam beli sepatu baru.
Gue pulang ke rumah dengan perasaan baru karena menenteng sepatu
baru. Gue harus ikhlaskan hati gue untuk sepatu kesayangan yang lama.
Gue harus move on. Gue juga nggak boleh menunggu yang nggak pasti,
seperti nungguin tukang sol sepatu yang nggak kunjung lewat depan rumah.
Layaknya setiap orang yang baru beli sepatu, gue coba pakai sepatu itu di rumah. "Bagus juga yah, sama kaya yang di toko tadi. Yaiyalah, kan yang di toko tadi udah dibeli sama gue," kata
gue dalam hati sambil memandangi sepatu baru itu. Di suasana haru dan
bahagia itu, tiba-tiba terdengar suara yang nggak asing, “SOL… PATU.”
Suara yang falsetto di bagian “PATU” itu kian lama kian
mendekat membuat hati ini murka. Gue samperin abangnya, lalu menarik
kerahnya sehingga badan si abang agak terangkat lalu abangnya gue belay. Dengan tatapan hina,
gue arahkan mata gue ke matanya. Mata kami bertemu, ternyata tatapan si
abang lebih serem. Gue turunkan badannya lalu merapikan kerahnya sambil gue cium keningnya. Lalu
gue cium tangan dan ngasih duit lima ribu, gue persilakan dia lewat.
KENAPA? Kenapa dia lewat di saat gue nggak butuh, dan nggak lewat di saat butuh, ya Tuhan?
Ternyata itulah rasanya kehilangan hal yang justru terasa berarti ketika dia nggak ada. Sakit, pahit, dan rugi lima ribu perak.
Dari pengalaman itu, gue banyak berpikir. Di hadapan cermin, sehabis
mandi gue melamun, lalu berniat menyanyikan lagu Heart Attack. Namun
gue urungkan. Bukan karena takut, melainkan karena gue nggak hapal
liriknya. Masih di hadapan cermin, gue berpikir dan bertekad, “Gue nggak
mau manyia-nyiakan apa pun.” Gue udah tahu rasanya kehilangan, gue
nggak mau menyesal karena baru merasakan betapa berartinya sesuatu, atau
bahkan yang lebih menyakitkan adalah merasakan betapa berartinya
seseorang ketika gue kehilangannya. Padahal ketika mereka ada, gue tak
acuh terhadapnya. Gue nggak mau jadi manusia yang bernasib seperti itu.
Gue nggak mau kehilangan seseorang. Ketika dia ada dan tersenyum di
hadapan, gue merasa biasa. Namun ketika dia jauh dan berada di genggaman
(orang lain), gue merasa hati gue hancur berkeping keping menjadi debu terus dibikin tayamum Fa*hat Abbas.Oposih? Ngilu rasanya mengalami hal seperti
itu. Yang bisa disesalkan adalah diri sendiri.
Lalu di dalam renungan, gue kadang ingin punya mesin waktu. Pergi ke
masa lalu, lalu mengubah semuanya agar menjadi lebih baik nantinya. Gue
nggak akan sia-siakan waktu yang ada itu. Namun ketika sadar, yang
terasa justru semakin sakit karena itu semua pastinya hal yang nggak
mungkin. Mesin waktu nggak mungkin ada. Gue nggak akan pernah bisa pergi
ke masa lalu hanya dengan masuk ke laci meja belajar gue dan
mengendarai semacam kapal bersama kucing biru tapi lebih mirip musang menuju ke masa lalu.
Mungkin agak berlebihan perasaan takut kehilangan yang gue rasakan, tapi gue cuma mau mengingatkan:
Kamu akan merasakannya ketika kamu mengalaminya.
Maka, selagi bisa, jangan sia-siakan seseorang yang ada bersamamu
sekarang. Jangan jadi orang yang menyesal dan jadi orang yang menyiksa
diri dengan penyesalan-penyesalan sendiri. Beruntunglah kalau memang
masih ada kesempatan kedua. Perbaikilah dengan sebaik-baiknya. Jangan
menyesal untuk kedua kalinya. Namun, selalu bersiaplah dengan
kemungkinan pahit; nggak ada kesempatan kedua.
Masih di depan cermin, gue pasang celana jeans kesayangan gue. Gue tarik gagang resletingnya.
“TAK!” bukan adik gue yang kejepit, bukan. Kalau kejepit mah suaranya gak gitu tapi "Kamp*eettt, oderdil gue"
Ya..gagang resleting gue patah, padahal resletingnya sama sekali belum
tertutup. Lamunan gue berakhir. Gue coba tarik resletingnya, tapi susah.
Akhirnya dengan berat hati gue ganti celana. Ternyata selain harus
bersungguh-sungguh menjaga, kita juga harus bisa lembut dan
berhati-hati. Kalau nggak, nanti akan bernasib seperti resleting celana
yang patah, hal kecil yang ternyata sangat berarti ketika kita
kehilangannya.

Comments
Post a Comment