Skip to main content

Belajar Dari Seorang Athies

Dooooorrrrrrr.....!!!!!
kaget gak sob ??? ya maaf kalo kaget, namanya juga bercanda.
Kamu tuh ya udah jomblo kagetan lagi *eh heheheh

Wah gak kerasa nih udah lama gak ngeblog, saking lamanya sampai gue kelupaan password blog gue (padahal baru sebulan lebih 2 hari). Untung gue orangnya kalau ada masalah suka inget sama Tuhan, jadi minta petunjuk sama Tuhan dulu deh, ya gue sholat istiqoroh dulu tadi. Alhamdulillah setelah gue sholat, blog gue bisa dibuka *kecup basah monitor*. Ternyata sholat Istiqoroh selain untuk menentukan jodoh kita bisa juga bikin daya inget kita bertambah *supi'i jenius*

O iya sob bukan gue mau murtad sebagai blogger sob karena jarang nge-post, tapi keadaanlah yang membuat gue gak bisa ngblog. Dari yang gue gak ada duit kelupaan beli kuota internet HP gue(ya gue pakek modem by phone) sampai kesibukan gue nyari kerja kesana kemari dan yang paling baru yang menyita waktu gue akhir akhir ini adalah kampanye sebagai masa bayaran (yang ini bercanda sob). hahahaha

Selain kesibukan tadi, gue kemaren ceritanya balik kampung ke tanah kelahiran gue yaitu kota paling panas indah di Pati, yakni kota Juwana. Udah 6 bulanan lebih gak balik kampung. Kebetulan kemaren ( tepatnya seminggu yang lalu) ada kesempatan buat balik kampung melepas kerinduan dengan keluarga di kampung. Sebenernya gue balik kampung karena ada berkas berkas gue buat daftar kerja udah expert (baca: kadaluarsa) dengan terpaksa senangnya  gue balik kampung.

- Terus hubungannya antara balik kampung ama Athies apa su(pi'i)?-
 Ya gue cerita dulu, ntar gue jelasin mblo. Emang lu tau Athies itu apaan

- Gak sih, emang paan su(pi'i)?-
Yaudah gue jelasin

Bentar deh gue jadi bingung, dari tadi siapa yang tanya mulu sih, kepoo banget .... #Lupain

Lanjut dulu ke cerita pulang kampung gue
Nah disini nih gue mau cerita soal pengalaman gue bertukar pikiran dengan seorang Athies, gue ketemu dengan seorang Athies ini saat gue balik kampung kemaren sob. Kebetulan gue satu bangku waktu di bus dengan seorang Athies yang juga ceritanya si doi mau balik kampung juga. Karena gue orangnya rada pendiem jadi sidoi yang mulai kenalan duluan sama gue. Namanya Sindhu (cowok), dia anak Filsuf UI. Pertama gue gak ngeh kalo dia seorang athies,pas istirahat makan tuh gue baru tahu...
Kebetulan gue naik busnya paling akhir, karena gue sholat isya' dulu dia sotak tanya ke gue.



Sindhu : "eh lo ngpain lama tadi?"
gue      : "ohh, ini tadi gue sholat isya' dulu. emang lu gak sholat?"
Sindhu : "Gue gak sholat"
gue      :" oh sorry kirain lu muslim" Disini gue masih gak ngeh
Sindhu :"Gak pa pa, udah biasa"
gue      :"la terus lu hindu/budha?" Gue pikir agamanya Hindu/Budha gitu secara namaya 
Sindhu :Dia ketawa sambil nepok punggung gue "Gue Athies sob" awalnya gue gak percaya 
gue      :"ohhh Athies to" Gue bingung mau nanya apalagi

Darisitu gue tahu kalo si doi seorang Athies, Sindhu udah 2 tahun ini menjadi seorang athies, kuliah Filsafatnya mengajarkan salah satunya mengenai Atheisme. Dia tertarik dan merasa menemukan jawaban jawaban atas rasa gundah dan penasarannya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebelum kita berjalan lebih jauh, mari gue terangkan 2 hal yang seringkali tertukar, gue berusaha untuk menerangkan sesederhana mungkin:
Atheisme: Tidak percaya akan adanya Tuhan
Orang yang Atheis tidak percaya sama sekali dengan Tuhan. Bagi dia, Tuhan itu tidak ada. Sebuah rekayasa umat manusia yang mendambakan sesuatu yang lebih besar dari dirinya

Agnostic:
Agnostik yang tepat adalah orang yang skeptis terhadap tuhan (dan agama tentunya) tapi tidak menepis kemungkinan adanya tuhan. Kalau diberikan bukti yang kuat tentang adanya tuhan, bisa jadi dia akan percaya tuhan. Tanpa bukti, seorang agnostik akan terus mempertanyakan tuhan dan agama. Esensinya adalah seorang agnostik “tidak mau asal percaya.”
Di kehidupan sehari-hari seorang agnostik akan menyerupai seorang atheis, karena dia “belum” percaya tuhan dan agama. Kemungkinan besar dia tidak beribadah (tentunya) dan juga tidak percaya doa.
 ___________________________________

Gue memang, belakangan ini penasaran dengan Atheisme.Berangkat dari kejadian penganiayaan Alexander Aan, pegawai negri yang mengaku Atheis di Facebook lalu dipukuli di kantor.
Gue sendiri bingung kenapa ada orang yang merasa sebal, benci, kesal dan bahkan sampai kepada menganiaya orang yang Atheis.
Itu kan pilihan dia.
Kenapa orang orang itu harus kesal?
Kenapa harus memukuli?
Rata rata bilang, dia kuatir kalau orang orang Atheis ini akan menyebarkan pemikiran dia dan membuat orang lain jadi Atheis. Ada juga yang bilang bahwa orang Atheis ini jangan dikasi panggung untuk bicara karena “Masyarakat Indonesia masih banyak yang labil dan mudah terpengaruh”

Ya itu mah salah iman mereka sehingga mereka labil dan mudah terpengaruh.
Kalau pede dengan imannya, maka harusnya tidak kuatir akan terpengaruh
Kalau takut anggota keluarga kita terpengaruh, ya berarti focus kita pada penebalan iman anggota keluarga kita. Bukan malah menggebuki orang yang atheis.
Seperti halnya FPI yang siang siang menggerebek warung makan dengan alasan “Minta agar yang puasa dihormati “
Lah orang yang puasa mah kalau kuat imannya mah ga masalah kalo ada yang makan didepannya. Kalau masih goyah sama orang yang lagi makan, ya silakan perkuat imannya.

Memang, masyarakat Indonesia harus benar benar belajar menyikapi perbedaan
Bhinneka Tunggal Ika itu kan maknanya berbeda beda tapi tetap (ber)satu.
Berbeda beda bisa dalam suku, ras, golongan, agama dan termasuk tidak beragama.
 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lanjut obrolan dengan Sindhu

Gue mulai tanya ke Sindhu, kalau begitu apakah Agama dan Tuhan di mata dia.
Dia menjawab bahwa agama adalah bagian dari sejarah dan merupakan bagian dari ragamnya budaya yang ada di dunia. Titik.
Tuhan di mata dia adalah sebuah rekayasa yang diciptakan manusia sendiri atas dasar 2 hal. Pertama, manusia cenderung memuja hal hal yang tidak dipahami. Dulu manusia menyembah matahari, lalu pohon lalu kini Tuhan yang lebih abstrak sehingga lebih “sempurna”. Alasan kedua adalah bahwa manusia menciptakan Tuhan sebagai kontrol sosial.
Lalu gue tanya kepada dia, lalu bagaimana dia menyikapi permasalahan hidup dan menyikapi hal hal diluar kemampuan dia. Dia menjawab (kurang lebihnya) yang pasti tidak meminta kepada sesuatu yang mengawang awing, bahwa semua permasalahan ada solusi yang nyata dan membumi. Sindhu sendiri bertanya apa pendapat gue akan orang atheis, gue menjawab, biasa saja
Dan memang orang atheis dibenak gue biasa saja.
Gue belajar untuk melihat apapun perbedaan yang ada sebagai ragamnnya umat manusia
Gue melihat orang buta, orang atheis, orang yang kakinya buntung, orang gay, sama saja seperti gue melihat orang ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang rambutnya kriting, ada yang botak,ada yang jomblo, dll.
Bagi gue, semua itu hanyalah perbedaan manusia yang sangat bisa dimaklumi.
Gue tidak melihat dia sebagai sesuatu yang aneh.
Mungkin dasar pemikiran ini pula yang membuat dia terbuka kepada gue dalam ngobrol.
Gue juga tanya dia soal Alexander Aan tadi, menurut Sindhu harusnya yang menganiaya juga dijerat pasal karena jelas penganiayaan adalah pelanggaran. Sementara mengungkapkan pendapat bukanlah sebuah pelanggaran. Mengapa Alex dijerat pasal penghinaan agama. Gue pernah dengar jawaban dari pertanyaan gue,ke Taufik Basari. Dia membenarkan bahwa harusnya orang orang yang menganiaya ditangkap dan dapat diproses secara hukum dan bahwa sebenarnya, hukum Indonesia tidak bisa menangkap orang yang atas pemikirannya. Artinya dalam hal ini, Alex harusnya tidak bisa dihukum 5 tahun penjara atas dasar penghinaan agama.
Alex juga terjerat pasal “pemalsuan identitas” karena di KTP tertulis Islam padahal Atheis.
Bagi gue ini lucu, lha wong Negara tidak menerima atheisme. Gimana caranya dia mau mengaku di KTP?
Apalagi kalau bikin e-KTP tidak ada pilihan “Atheis” atau minimalnya seperti yang tersedia kalau kita bikin KTP biasa: “Kepercayaan lain”
Orang orang seperti Sindhu secara teknis tidak diterima oleh Negara. Negara tidak mengakui adanya dia. Lebih sedih lagi, Indonesia tidak mengakui dia yang berkeyakinan diluar yang diterima Negara: Hindu, Buddha, Konghucu, Katolik, Kristen, Islam. Padahal seperti yang kita tahu, di Indonesia ada banyak sekali keyakinan tradisional.
Contohnya, masyarakat Mentawai punya keyakinan sejak lama yang tidak diterima Negara. Mereka juga percaya akan Tuhan yang banyak. Bayangkan, masyarakat seperti ini banyak di Indonesia. Sedih sekali kalau Negara tidak mengakui keberadaan mereka. Lalu mereka warga Negara apa?
Sindhu sempat mempertanyakan soal Pancasila kepada gue. Dia bertanya bagaimana dengan sila pertama “Ketuhanan yang maha Esa” dan konsistensinya kepada Hindu yang memiliki banyak dewa dan dewi. Gue terangkan bahwa “Ketuhanan yang maha Esa” itu banyak disalah artikan. Kalimat tadi bukan berarti percaya dengan 1 Tuhan. Kalimat tadi menerangkan bahwa setiap orang harus punya 1 buah konsep ketuhanan. Alias , harus punya sebuah agama / kepercayaan.
Tulisannya “Ketuhanan” bukan “Tuhan” dan bukan pula “Keagamaan”. Indonesia menyadari bahwa setiap orang punya konsep Ketuhanan masing masing dan Indonesia menginginkan masyarakatnya percaya dengan sebuah keyakinan. Itulah mengapa Hindu bisa diterima, namun inilah juga mengapa Atheisme tidak diterima di Indonesia.
Di akhir obrolan, gue tadinya berusaha untuk kontra dengan dia tapi bisa berdebat dengan sehat, bukan debat kusir dan yang terpenting adalah, tanpa bawa bawa dalil agama.
(LHO? Kenapa tanpa bawa Agama?)
Ya, karena dia tidak percaya agama. Percuma bawa bawa dalil agama wong dia tidak percaya kok. Seperti berusaha mematikan api yang terpicu dari listrik dengan menggunakan air. Nggak ngaruh. Yang musti dilakukan adalah mematikan sumber listriknya.
Tapi ternyata gue pun susah untuk mendebat dia karena pada dasarnya gue tidak punya masalah dengan dia. Akhirnya, gue memutuskan untuk memutar balik keadaan. Gue minta dia, untuk meyakinkan gue, bahwa Tuhan itu tidak ada.
Usul ini, diterima dengan baik oleh Sindhu.
Dia membuka dengan pertanyaan
“Mengapa agama elo Islam?”
Gue tahu arah pertanyaan itu, pertanyaan itu berusaha menyadarkan gue bahwa agama yang gue pilih diturunkan dari orang tua gue dan kalau orang tua gue beragama Khatolik kemungkinan besar gue akan beragama Khatolik, itu menandakan, tidak ada iman dan keyakinan dalam pilihan gue karena itu semua by default.
Gue menjawab “Karena setelah gue pelajari agama lain (di SMP STM maupun ditempat kerja gue dulu banyak bergaul dengan orang Non-Muslim yang membuka wawasan gue akan agama Selain Islam) cara berkomunikasi dengan Tuhan yang ditawarkan dengan Islam sesuai dengan yang gue suka”
Gue melihat agama sebagai ragam jenis cara berkomunikasi dengan Tuhan. Gue bahkan percaya bahwa kita semua berdoa kepada Tuhan yang sama sebenarnya (Allah SWT) dan siapapun nama yang umat manusia sebut dalam doanya, yang menjawab adalah Tuhan yang sama. Kalau Dia berkehendak.
Banyaknya agama adalah pilihan akan banyaknya cara berkomunikasi dan berinteraksi dan hidup atas ajaran Tuhan. Di antara semua yang ada, gue menyukai cara Islam. Gue tahu ada banyak sekali, ratusan bahkan mungkin ribuan agama & kepercayaan di muka bumi ini, walaupun ada yang menyembah pohon beringin dan batu dan matahari, namun gue percaya sesungguhnya hanya 1 yang mendengarkan dan kalau berkehendak, mengabulkan: Allah SWT.
Dia tanya “kenapa sukanya Islam?”. Gue jawab “karena gue suka dengan caranya Islam. “ Ini selera seleraan, sama seperti mengapa ada yang suka bakso ada yang suka mieayam ada yang suka nasi goreng. Selera.
Lalu dia bertanya lagi,
“Apakah elo percaya Tuhan dan apa bukti keberadaan Tuhan?”
Gue jawab gue percaya Tuhan dan gue tidak perlu bukti lain karena gue merasakan kehadiran Tuhan.
Ditanya lagi oleh dia “Bagaimana elo bisa tahu Tuhan itu ada, apakah elo bisa melihat, pernah ketemu?” . Gue jawab “Gue tidak pernah melihat udara tapi gue tahu udara itu ada” dan gue juga tidak pernah melihat wujud cinta, tapi ketika gue melihat ibu dan gebetan gue, gue yakin cinta itu ada. Argumentasi gue sama.
“Udara itu bisa dibuktikan keberadaannya dengan sains. Tuhan tidak bisa”. Itu adalah karena sains kita belum sampai kesana dan bahkan mungkin tidak akan sampai ke sana. “Lalu buktinya apa?” tanya dia “Masak percaya begitu saja tanpa ada bukti?” dia bertanya itu dengan dasar bahwa kitab suci juga rekaan manusia. Gue jawab “Terlalu sering dalam hidup gue, terjadi sesuatu yang lebih dari sekedar kebetulan. Kalau kebetulan, ini terlalu ekstrim kebetulannya. Gue meyakinkan itu bukan kebetulan dan bahwa itu adalah campur tangan Tuhan”
Dia bertanya apa kejadian itu. Gue jawab, “Banyak banget. Contohnya, gue pengen banget punya motor. Gue berusaha dengan kerja di Bekasi tapi tidak ada hasil apa apa. Lalu gue berdoa dengan amat khusyuk, meminta, berserah diri, dan pada masa itu, saat gue dikasih rejeki maka gue bisa beli motor gue dengan uang gue sendiri."

 Walaupun murah tapi STNK nama sendiri
Vaijo

 Sindhu bertanya “Tapi elo dapet motor  karena elo kerja keras kan? Kalau tidak kerja mana mungkin bisa beli motor kan?” . Gue jawab, dari dulu juga gue kerja tapi tidak menghasilkan apa apa, namun setelah meminta, langsung kebeli. Makanya gue bilang, its too much of a coincidence. Kejadian seperti ini banyak sekali terjadi dalam hidup gue. Karenanya gue merasakan sekali kehadiran Tuhan”
Dia lalu bertanya, “Okay, elo percaya Tuhan karena doanya dikabulkan. Bagaimana dengan doa orang miskin yang kelaparan di banyak sekali daerah di dunia, bolehkah mereka tidak percaya Tuhan? Apakah Tuhan tidak mau mengabulkan doa mereka? Mengapa Tuhan pilih kasih? Mengapa justru orang yang teramat sangat butuh bantuan tidak dikabulkan doanya, mengapa orang seperti elo (mungkin maksudnya yang hidup lebih enak dan tidak mendesak kebutuhannya) malah dikabulkan? Memangnya elo lebih baik daripada mereka?”
Gue jawab, “Di mata gue, Tuhan memberi keadaan keadaan seperti ini sebagai sebuah ujian bagi gue. Gue harusnya merupakan jawaban dari doa mereka. Bahwa Tuhan akan menjawab doa umatnya lewat tangan dan kaki umatnya yang lain. Doa orang orang kelaparan itu, harusnya dijawab oleh gue. Karena Tuhan memberi tahu gue akan keadaan mereka.”
Seringkali, ketika keluarga gue ada masalah gue sering berbicara dengan kalimat “Kita semua percaya Tuhan kan? Artinya kita semua percaya semua dalam hidup kita adalah karena kuasa Tuhan?” Semua mengangguk “Maka berarti, dengan kesepakatan tadi maka kita sama sama sepakat hari ini Tuhan menginginkan keluarga gue tahu tentang keadaan didalam keluarga gue. Pertanyaan gue untuk elo, kalau elo tahu Tuhan yang memberi tahu ini kepada elo, maka… apa yang akan elo lakukan?”
Artinya, kalau mereka yang kemiskinan, dan hampir mati kelaparan sudah berdoa kepada Tuhan tapi keadaan mereka tidak berubah, maka bukan salah Tuhan. Tapi salah gue yang SADAR akan keadaan itu tapi tidak berbuat apa apa.
Dia bertanya kembali “Mengapa ada Neraka yang jahanam dan mengapa Tuhan senang menghukum kalau memang katanya Tuhan Maha Baik?”
Gue menjawab, konsep Neraka yang kebanyakan orang percayai, itu terdistorsi oleh buku anak anak yang menggambarkan neraka itu sebagai tempat di mana lidah akan dipotong, kulit akan disayat, mata akan dicongkel. Sementara keyakinan gue, Neraka tidak seperti demikian. Sebagaimana menurut gue, Surga bukanlah tempat di mana sungai sungai coklat mengalir (itu mah di Jakarta ada, namanya Kali Ciliwung. Coklat cenderung hijau, hehehe)
Bahwa Neraka adalah tempat kesalahan kesalahan kita ditebus adalah benar namun bahwa isinya penuh siksa yang mengerikan adalah akibat penuturan yang ditulis untuk disesuaikan dengan kondisi dan jaman tempat surat dan ayat tersebut diturunkan.
“Lalu mengapa harus ada hukuman? Kenapa yang salah manusia? Kan Tuhan maka kuasa termasuk kuasa untuk membuat manusia tidak berbuat kesalahan?”
Disinilah gue menganggap Tuhan adalah pemimpin terhebat di smesta alam.
Dari yang gue tahu, pemimpin yang baik tidak menyuruh anak buahnya. Pemimpin yang baik mengkondisikan sedemikian rupa, sehingga anak buahnya tahu apa yang benar untuk dilakukan. Anak buah tersebut akan melakukannya atas kesadaran penuh dan bukan karena keterpaksaan disuruh suruh.
Kalau misalnya elo seorang pemimpin dan elo ingin anak buah elo menyapu, maka pemimpin baik tidak akan menyuruh. Tapi dia mengajak elo berbincang dan bertanya serangkaian pertanyaan seperti
“Sudah berapa lama tinggal di sini?
“Enaknya tinggal di sini kalau kondisi rumahnya bagaimana?”
“Oiya? Elo senang kalau rumahnya bersih? Saat ini rumahnya bersih atau kotor?”
“Kalau elo sadar kotor, maka sebaiknya musti diapain biar bersih?”
“Kalau menyapu akan membuat rumah ini bersih sementara cuman elo yang tingga di sini, maka harusnya gimana biar rumah ini bersih?”
Si anak buah akan menjawab dengan mulutnya sendiri “harusnya gue sendiri yang sapu rumah ini biar bersih dan gue nyaman tinggal di sini…”
Pemimpin yang baik akan mengungkap fakta sebanyak banyaknya, memberikan pilihan seluas luasnya, dan dengan kemampuannya, membuat anak buahnya sadar.
Itulah yang Tuhan berikan kepada kita. Fakta, kejadian, kenyataan, pilihan ditunjukan semua kepada kita. Dan kita disuruh untuk memilih.
Gue percaya, kalau ada 1 hal yang diserahkan kepada diri kita, adalah pengambilan keputusan.
Sisanya, dibawah kuasa Tuhan. Ambillah keputusan lalu kita hanya perlu untuk menjalankan. Kalau terasa berat, jalani terus karena Tuhan sudah berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan kita sendiri.
“Lalu mengapa harus ada hukuman?”
Untuk orang yang sadar akan pilihan yang benar tapi tidak menjalankan, maka itu bukan hukuman. Itu konsekuensi.
Gue rasa, cara paling mudah untuk memahami adalah seperti ini.
Anggaplah, elo punya anak.
Okay, itu poin pertama: Elo punya anak.
Lalu elo tentunya tidak akan mau anak elo meninggal.
Poin pertama, elo punya anak
Poin kedua, elo tidak mau anak elo meninggal.
Nah sekarang situasinya:
Kalau elo punya anak, lalu anak elo suka ngencingin colokan listrik lalu memasukkan jari ke colokan yang basah itu, maka pasti elo akan menahan anak tersebut lalu menerangkan apa yang akan terjadi atas kelakuannya.(Sorry analogi gue jorok)
Elo terangkan sejelas jelasnya, elo berikan contoh contoh kejadian serupa, lalu elo yakin anak elo mengerti. Kemudian anak elo melakukan hal yang sama karena badung. Alias karena sadar dia salah tapi dia tetap mau melakukannya.
Apa yang elo lakukan?
Ingat bahwa ini anak elo dan elo tidak mau anak elo celaka apalagi meninggal.
Maka pilihannya adalah menghukum anak tersebut.
Agar anak tersebut jera.
Hukuman itu sama sekali tidak berarti kita benci, justru adalah karena kita sangat mencintai anak kita. Bukanlah takdir orang tua untuk mengubur anaknya.
Toh setelah hukuman tersebut, kita akan tetap mencintai anak kita.
Begitulah, neraka di mata gue.
Ini baru ilustrasi kalau anaknya satu, sekarang bayangkan elo adalah orang tua dengan jumlah anak 7 miliar (jumlah populasi manusia di Bumi)
Bayangkan memimpin dengan baik anak anak sebanyak itu.
Itulah mengapa Tuhan adalah pemimpin terbaik yang oleh kita umatnya tidak akan bisa dipahami.
Karena banyak yang tidak paham, maka banyak yang enggan untuk menurut dan enggan untuk percaya.
Di benak orang orang yang tidak percaya, gue pasti tampak bodoh dan naïf.
Lucunya dibenak kita yang beragama, dia yang tidak percaya Tuhan adalah bodoh dan naïf.
Lalu kita musti bagaimana?
Gampang.
Kita harus menerima.
Kita harus terbuka.
Terbuka artinya, kita mungkin tidak setuju dengan opini dan pilihan dia, tapi kita bisa memahami.
Bahwa perbedaan bukan hanya merupakan pilihan, tapi juga keadaan yang diciptakan Tuhan
Bukan urusan kita membuat seisi Bumi jadi seragam.
Tugas kita adalah hidup, nyaman, damai, bahagia dengan perbedaan tersebut.
Biarlah, ada orang orang yang tidak percaya Tuhan. Tapi mari kita yang percaya akan kuasa Tuhan, yang membantu menjamin, diapun bisa hidup dengan nyaman dan tenteram, bersama.

Obrolan di atas bus itu pun kami akhiri karena sodara saya si Sindhu sudah sampai Semarang, gue sih berharap sodara kita macam Sindhu lebih diperhatikan lagi oleh lingkungan sosial dan Negara, agar kejadian seperti Alexander Aan tidak terjadi lagi di Indonesia.
Sepertinya gue udah terlalu capek ngetik nih sob, udahan dulu ya kapan kapan kita sambung lagi...

O iya kalo kalian punya pengalaman atau saran untuk kebaikan sodara Athies kita cantumkan saja di kolom komentar............Terima Kasih.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...