Skip to main content

Kuliah tentang Sinetron

"Yah tiketnya dapet yang malam"
Yaudah sore itu saya putusin untuk mencari tempat makan yang ada TVnya buat nonton MU. Sekian detik mencari akhirnya dapat seat deket TV di resto depan Bioskop. Pikirku akan buat nobar bola itu TV eh ternyata di depan banyak ibu ibu gaul mall yang membawa personil cukup banyak, secara birokrasi mereka menguasai Siaran TV di resto tersebut. Dan bisa ditebak mereka mengganti channelnya menjadi serial drama sinetron. Oke fine, saya secara politik mencoba untuk bernegosiasi dengan para ibu ibu gaul itu.
“Ngapain sih nonton sinetron Bu? Kan sedih..” tanyaku dengan nyinyir
Saya tanya kepada salah satu Ibu yang ada di rest area depan bioskop.
Lama lama saya penasaran dan menanyakan pertanyaan tadi..
“Bagus tau mas sinetron…” kata si Ibu
“Iya tapi kan ceritanya gitu gitu aja, sedih pula, dikit dikit tampar tamparan, mana orang orangnya jahatnya berlebihan deh. Sampe siram kopi ke muka orang..” balas saya
“Sinetron itu mas, hiburan kami satu satunya. Soalnya se-sedih-sedih-nya si tokoh utama, akhirnya akan bahagia juga” sahut salah satu ibu.
Dalam obrolan saya lebih lanjut, saya akhirnya memahami. Bagi beberapa orang ini, sinetron seperti penggambaran ekstrim dari kehidupan mereka. Beratnya hidup, jahatnya orang orang di sekitar mereka, ketidak adilan yang mereka rasakan, kekurangan uang dan kondisi ekonomi yang dibawah rata rata tergambarkan lewat sosok tokoh utama. Mereka seakan menempel menonton sinetron karena ingin tahu kapan dan bagaimana kehidupan tokoh utama ini berputar balik. Lama memang, dibikin gantung ber- episode -episode, tapi kan kehidupan berat mereka juga mereka jalani setiap hari, minggu, bulan, bahkan tahun.
Selama judul sinetron ini masih ada, masih ada harapan untuk si tokoh utama mendapatkan kebahagiaan pada akhirnya, dan selama itu juga mereka bertahan untuk menonton. Kesamaan rasa dan harapan, adalah 2 hal utama yang membuat mereka suka menonton sinetron
Saya tidak pernah membayangkan bahwa
sinetron jadi semacam penyaluran bagi banyak rakyat Indonesia terutama bagi para ibu rumah tangga.
“Tapi ibu kalau tidur gak full make-up kayak di sinetron kaaann?” tanya saya sambil becanda
“Hahahahaha ya enggak lah mas…. alat make- upnya kan harganya mahal mas”
Lah? :D
Lumayan lah dapet kuliah sore tetang Fenomena Sinetron dikalangan ibu ibu rumah tangga. Malam itu pun aku tutup dengan masuk bioskop dengan senyum sisa bercandaan di resto tadi.

Comments

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...