Skip to main content

Kata Ibu tentang Kotak kenangan

Sabtu soreku
Atau malam Minggu, tergantung paham mana yang kamu anut.

Bagian yang paling “overrated” dari sebuah pekan, menurut saya.

Terlebih saat ini, ketika saya sedang tidak memiliki pacar.
Atau kekasih, tergantung paham mana yang kamu anut.

Malam Minggu kali ini saya habiskan dengan duduk-duduk santai di rumah. Sebuah kantong plastik yang tadinya penuh keripik Mak ichii level 8, kini sudah hampir kosong.  Sisa sekitar dua jumput remah-remah yang menawarkan rasa barbekyu cabe meksiko.  Nafsu makan, alias sifat rakus, membuat saya hampir menuang seluruhnya ke tangan dan menjilati jari satu persatu.
Untungnya, atau sialnya, suara langkah kaki mendekat, disertai suara gelegar “heh! lagi batuk!”  Kantong pun terjatuh ke lantai, tidak bisa melawan gaya gravitasi, dan membuat sebagian besar remah berserak di lantai.
 ”Bantuin beresin rumah! daripada bengang-bengong enggak penting begitu!” kata Ibu.
Tanpa berkata-kata, saya berdiri dan mengedarkan pandangan ke sekeliling.  Tidak ada yang terlihat berantakan, selain si kantong keripik tidak bersalah yang baru saja saya campakkan -__-. Tapi saya tahu, tidak ada gunanya melawan wanita yang melahirkan saya ini.  Sekali dia berkata “bereskan!” berarti ada yang berantakan.
Mungkin dia bisa melihat hati saya yang berantakan.
Setelah membersihkan kekotoran di lantai, saya kembali duduk, dan merebahkan kepala di kursi santai peninggalan ayah dengan rangkaian rotan yang tersusun rapi.  ”DISURUH BANTUIN KOK MALAH TIDUR-TIDURAN??”  Gelegar suara itu kembali terdengar.  Sepertinya benar, dia bisa melihat ke hati saya yang memang sedang berantakan.
Menuju sumber suara, akhirnya saya melihat apa yang dimaksud oleh ibu saya tercinta.  Setumpuk barang dalam kardus berukuran besar, yang beberapa di antaranya sudah sangat lama tidak saya lihat.  Mungkin sama lamanya dengan terakhir kali saya menjalankan ibadah malam mingguan.  Ibu saya hanya berdiri di sebelahnya, dengan tangan terlipat, dan ujung kaki diketuk-ketuk dengan irama 3/4.  Dari tatapan matanya, saya tahu, itu hanya berarti 1 kata: SEKARANG!!
Beliau berlalu, mungkin berlanjut memasak di dapur kesayangannya.  Saya ditinggal dengan sekardus penuh barang-barang purba nan berdebu.  Saya duduk, dan mulai mengeluarkan satu per satu.
Sebelum memulai melakukan hal yang sudah saya tunda selama sebulan ini, saya mengambil dua kardus yang lebih kecil.  Satu saya labeli “Masih bisa dipakek”, satu saya labeli “sampah”.
Sebuah JoyStick PS yang lebih terlihat seperti peyek udang tak berbentuk.Oh ya ini Stick hancur tak berbentuk karena kakak saya murka gara gara Kalah 10-1. Saya colokin masih fungsi. Masih bisa di benerin.  Jersey MU juara Champions 2008 di masa saya masih SMP, 5 tahun lebih muda, dan 30 kilogram lebih ringan.  Terlihat  keren, tapi mana mungkin bisa saya pakai lagi. Sampah.  Sepatu robek tanpa tali, penuh coretan kawan-kawan STM.  Apa gunanya. Sampah.  Pin band favorit sewaktu belah samping belum menjadi alasan untuk malu keluar rumah.  Sampah. Topi "Tersayang" warna biru yang dulu dibelikan ayah,masih sama gambar bunganya yang tidak pernah layu. Sampah.
Lima belas menit, saya sudah hampir selesai.  Selama lima belas menit itu, hampir semua yang saya sortir, masuk ke kardus “sampah”.  Ternyata sisi emosional saya sudah sedemikian beku.  Barang berikutnya adalah sebuah dompet koin.  Saya terkejut, karena tidak pernah melihat dompet ini sebelumnya.  Kancingnya pun terbuka dengan satu gerakan cepat, karena saya berusaha mengetahui isinya.  Sekali lagi, saya terkejut.  Kali ini, bukan perasaan bingung yang menyerang, melainkan perasaan sesak.  Sebuah kotak plastik bening, berisi sebuah cincin berukirkan nama seseorang.  Untuk yang satu ini, saya ingat jelas. (mantan oh mantan)
Cincin yang saya belikan untuk dia yang pernah mengisi hati saya.  Pernah.
Tanpa saya sadari, ibu saya berdiri di belakang.
Ibu ngomong “Who did you buy that for?”
Saya kaget “Eh…?” (muka begok sambil nganga)
Saya kehilangan kata-kata.  Saya berusaha menyembunyikan, tetapi terlambat.  Cincin itu sudah berpindah tangan.
“She must be pretty special, eh? Who is she?” kata ibu.
Saya masih terdiam.  Beliau tersenyum.
“You know what? She might be special, but i’m sure she’s not THAT special”
“what do you mean?”
Pertama kalinya saya mengeluarkan kata-kata.
“If she is that special, you are not gonna be here now”
“again, emaak , what do you mean?”
Tempo bicara saya semakin perlahan.  Karena saya setengah tidak yakin bahwa ibu saya paham pertanyaan saya.
“If she is that special, this ring must have been in her finger.  Not here, with me.”
Dia meletakkan cincin itu di tangan saya, lalu sambil bersenandung “sepanjang jalan kenangan”, beliau berlalu. (Emaakk lop yu dahh)
Belum habis terkejutnya saya, dia berkata setengah berteriak: “If you have time to pout, you have time to go out!”
Saya mengejar beliau, dan bertanya sekali lagi, apa maksudnya?
“Kamu menghabiskan waktu terlalu lama untuk bersedih dan menyesali si wanita yang harusnya pemilik cincin itu.  Ada kenangan yang pantasnya di dalam kotak.  Ada yang pantas di tempat sampah.  Pilih kotakmu baik-baik, Mas Imam”
Saya kembali ke hadapan kotak tadi.  Begitu banyak barang yang saya masukkan di kotak “sampah”.  Saat saya teliti satu per-satu, banyak barang yang masih menggores senyum di bibir saya.  Saya ambil spidol, dan mencoret tulisan “sampah”.  Sekarang, kotak itu bertuliskan “KENANGAN”.
Saya tersenyum.
Lalu kotak cincin itu saya tulis “SAMPAH”.Sepertinya itu akan lebih baik secara pemaknaan sebuah kata Kenangan yang terlalu lama di lupakan bahkan disesali

Comments

Popular posts from this blog

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is

Nongkrong Ala New York Times dan Segelas Teh Man-Is Indonesia merupakan negara yang amat sangat besar. Hal itu tentunya diikuti oleh banyak sekali budaya-budaya yang mengikutinya, baik yang baik maupun yang kurang baik. Beberapa budaya yang kurang baik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah budaya ngaret, malas, dan juga budaya nongkrong. Meskipun demikian, jika dilihat dari sisi yang lain ternyata ada budaya yang selama ini kita anggap buruk ternyata memiliki potensi untuk berdampak positif bagi kehidupan kita contohnya adalah budaya nongkrong. NY Times Sepertinya kata “nongkrong” udah nyampe Amerika. Kata nongkrong masuk kolom Business – Global, The New York Times (Mei, 2012), isi beritanya Seven Eleven menemukan jalan berbisnis di Indonesia. Sebenarnya saya agak gusar ketika media New York Times coba meng-artikan nongkrong, ada kalimat di kolom berita tersebut berbunyi : “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where t...

Masa SMP dulu

Masa SMP dan Harapan  Saya kritis semenjak dikandungan ibu saya. Bukan kritis yang kanannya oksigen sebelah kirinya infus dan sayanya berbaring diruang ICU. saya maksud itu..ya kritis. Saya juga bingung ngejelasinnya gimana.. Pemikiran kritis saya itu berawal dari ketika saya dilahirkan di dunia ini, saat itu saya langsung nanya gini ke ibu saya, @imamsarodjo : "Mak, kok pas saya dilahirkan di dunia ini harus di-adzan-in dulu, sih?"                            "Kenapa nggak dimasakin Indomie ?"                            "Kenapa nggak diajakin karaokean?" Dan ibu saya jawab dengan kesabaran yang sangat tinggi, tentunya cewek-cewek yang lagi PMS pasti kalah deh sama sabarnya ibu saya pas ngejawab pertanyaan saya. Mu...

Belajar Dari Kehilangan

Dompet ku sayang Baru-baru ini di Jakarta ada event Jazz yang super seru bahkan terbesar didunia, namanya Java Jazz Festival. Gue dateng di hari pertama dan dihari kedua kemaren, sesuai paket tiket yang gue beli untuk tanggal 28 & 1. JJF 2014 sangat special karena bertemakan sepuluh tahun JJF,kebetulan gue pesen lumayan banyak yakni 2 tiket buat sendirian,sendirian... ya buat ((SENDIRIAN)) #SWAG . JJF 2014 Hari pertama nonton lumayan membuat gue terharu karena gue dateng kesana sendirian tanpa teman karena lu tau gue kan...jom..ya -bentar gue ambil tissu dulu- *5 menit kemudian* oh ya sampai mana tadi? yaudah lupain (pura pura lupa). Line up buat hari pertama cukup membuat gue melupakan sejenak ke jombloan susahnya hidup gue menjadi seorang anak yang jauh dari cinta orangtua. Di tahun ini lumayan bergengsi karena di dukung lebih dari 1300 artis dari dalam negeri maupun luar negeri, 1000 artis lokal dan 300an artis luar negeri. Seperti Jamie Cullum,Natalie Cole,Allen St...